Dibeli BUMN Thailand, Adaro Energy dapat suntikan Rp4,35 triliun

Selasa, 20 Desember 2016 | 10:04 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Adaro Energy Tbk (ADRO) telah merampungkan penjualan saham PT Adaro Indonesia sebesar 11 persen kepada perusahaan asal Thailand yakni Electricity Generating Authorty Of Thailand (EGAT) melalui right issue pada November 2016. Dengan begitu, Adaro mendapatkan dana segar senilai US$325 juta atau setara Rp 4,35 triliun.

Head of Corporate Secretary and Investor Relation Division Adaro Energy Mahardika Putranto mengatakan pihaknya masih terus mengkaji berbagai kemungkinan kerja sama bisnis dengan perusahaan listrik asal Thailand tersebut usai penjualan saham anak perusahaan Adaro.

"Adaro Indonesia itu kan lebih melihat strategic partner, kalau kita punya startegic partner itu kan, enggak mungkin menguntungkan hanya satu pihak, pasti dua pihak diuntungkan. itu nanti pasti akan ada kesempatan ke depan, karena EGAT ini kan bisa dibilang perusahaan Thailand yang besar, saat ini ada persetujuan di situ, tapi konkretnya masih terus didiskusikan, kerja sama apa yang bisa dilakukan," ujarnya di Jakarta, Senin (19/12/2016).

Lebih lanjut, dia mengatakan kerja sama ini diupayakan dalam ekspor batu bara ke Thailand. Di mana, Thailand membutuhkan batu bara mencapai 25 juta hingga 35 juta ton per tahun. Kebutuhan ini hampir sama dengan Malaysia dan Filipina.

"Itu akan berjalan sinergi, saya enggak tahu apakah bisa membantu mereka di suplai batubara atau apa," jelasnya.

Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT) berencana membeli 12 persen saham produsen batubara, PT Adaro Indonesia, anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Nilai transaksi ini ditaksir mencapai US$325 juta.

Rencana investasi perusahaan listrik milik pemerintah Thailand ini sudah mendapatkan persetujuan dari pemerintah Thailand. Investasi tersebut bakal dilakukan oleh EGAT International Co, anak usaha EGAT.

Transaksi ini dinilai akan mendukung strategi jangka panjang untuk mengamankan suplai energi negara. Rencananya, sebesar US$164 juta akan dibayarkan pada tahun ini. Lalu, sisanya akan dilunasi dalam periode tahun 2022 hingga 2027 mendatang. kbc10

Bagikan artikel ini: