Luncurkan FPSO, HCML kejar produksi semester II 2017

Kamis, 17 November 2016 | 07:23 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com:  Sebagai salah satu wujud dukungan pada upaya pemerintah mengutamakan pasokan gas dalam negeri, Husky – CNOOC Madura Limited (HCML) menyelenggarakan acara “FPSO Sail Away” di Keppel Shipyard, Singapura, awal minggu ini.

Seremoni tersebut dihadiri oleh Dirjen Migas, IGN Wiratmaja Puja beserta jajarannya, Kepala Divisi Penunjang Operasi SKK Migas, Nurwahidi, Senior Manager Development HCML, Jonny Pasaribu dan jajarannya, VP Finance & Economic CNOOC SES Ltd., Wang Yaohui.

Hadir juga Representative of Husky Oil Madura Partnership, Kevin S. Moore, dan Representative of SMS Development Limited, Adriansyah Chaniago, serta perwakilan buyers HCML.

Seremoni berupa penekanan tombol ini merupakan simbol berlayarnya kapal FPSO (floating production, storage, and offloading). FPSO yang diberi nama “Karapan Armada Sterling III” ini akan ditempatkan di Lapangan gas BD, Selat Madura.

"Kita patut berbangga karena hampir 90 % pekerja di FPSO Karapan Armada Sterling III ini adalah warga Indonesia," kata Dirjen Migas, IGN Wiratmaja Puja dalam siaran pers yang diterima kabarbisnis.com, Rabu (16/11/2016) petang.

Sedangkan Kepala Divisi Penunjang Operasi SKK Migas, Nurwahidi, menjelaskan bahwa seremoni ini sebagai langkah cepat untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber minyak dan gas di bumi Indonesia. Acara ini juga memainkan peranan penting dalam menjaga nilai-nilai hubungan dan kerjasama dalam mendukung bisnis pengembangan sumber daya alam Indonesia.

"FPSO Karapan Armada Sterling III akan memainkan peranan yang sangat penting bagi lapangan gas BD. Kami menempatkan perubahan FPSO ini pada skala prioritas yang tinggi karena tidak hanya untuk mendukung upaya peningkatan produksi minyak nasional, melainkan juga menciptakan lapangan kerja, mendukung ekonomi regional dan stabilitas politik, serta mendukung Pemerintah dalam menurunkan angka subsidi minyak yang membebani anggaran,," tambah Nurwahidi.

Pengerjaan proyek pembangunan FPSO ini secara keseluruhan memerlukan waktu sekitar 24 bulan dimulai dari detail engineering sampai dengan penempatan di lepas pantai. Kapal FPSO ini juga telah menyelesaikan seluruh tahapan tes dan uji coba operasi yang diperlukan dengan hasil yang sangat memuaskan, dan kapal dinyatakan fit oleh surveyor American Bureau of Shipping yang berbasis di Singapura.

"Kita berharap agar tahap sail away hingga penempatannya di offhore nanti bisa selesai sesuai target yang telah direncanakan," kata Senior Manager of Legal, HR & Business Support HCML, Wahyudin Sunarya.

Kejar Produksi Semester II 2017

HCML, yang merupakan operator wilayah kerja Madura Strait Block dimana kegiatannya berada dibawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas, terus berupaya bisa memenuhi target produksi pertama gas dan minyak dari lapangan BD pada kuartal II tahun 2017 ini.

Lapangan BD sebagai bagian dari Blok Madura Strait terletak di lepas pantai Selat Madura, Jawa Timur, 65 kilometer sebelah timur Surabaya dan 16 kilometer sebelah selatan pulau Madura.

Sumur-sumur gas Madura-BD tepatnya ada di sekitar area kepulauan Mandangin, lepas pantai Selat Madura. Lapangan pengembangan ini merupakan lapangan lama dan diharapkan akan menghasilkan 442 BCF (Billion Cubic Feet) Gas Bumi dan 18,7 MMBL Kondesat selama 13 tahun.

"Produksi pertama diharapkan pada kuartal II tahun 2017. Kami sedang bekerja keras untuk mencapai target itu," tegas Wahyudin.

Untuk produksi awal, tambah dia, akan menghasilkan gas sebanyak 100 juta kaki kubik per hari dan 6.000 barel perhari kondesat.

Proyek Pengembangan Lapangan gas BD adalah lapangan HCML pertama yang sudah disetujui Plan of Development (POD)-nya oleh SKK Migas. Hasil produksi Lapangan BD akan disalurkan kepada pembeli yaitu: PT Perusahaan Gas Negara, PT Inti Alasindo Energi, dan PT Parna Raya.

"Dari lapangan ini, kami ditetapkan menjual seluruh gas ke dalam negeri dan ke perusahaan milik pemerintah. Ini sesuai dengan program pemerintah yang mengutamakan pasokan untuk dalam negeri terlebih dahulu. Dengan mengutamakan gas untuk dalam negeri, secara tidak langsung akan membantu menggerakkan dan meningkatkan laju ekonomi khususnya bagi industri-industri yang ada di daerah," pungkas Wahyudin.kbc6

Bagikan artikel ini: