Karyawan Carrefour Jakarta unjukrasa

Senin, 9 November 2009 | 20:42 WIB ET

JAKARTA - Gara-gara sistem kerja kontrak (outsourching) membelenggu dan menghantui gerak karyawan, sekitar 1000 karyawan Carrefour dari Jakarta, Bekasi, Bandung, Depok, Tanggerang dan Bogor melakukan aksi unuk rasa di depan kantor pusat Carrefour di kawasan Lebak Bulus Jakarta Selatan, Senin (9/11/09). Karyawan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Carrefour Indonesia menuntut penghapusan sistem kerja kontrak yang merugikan karyawan.

Aksi demo ini berlangsung tertib, namun memacetkan arus lalu lintas hingga 5 kilometer. Sementara pengunjung di pusat perbelanjaan Carrefour Lebak Bulus masih berlangsung normal. Malah aksi itu menjadi tontonan hiburan bagi pengunjung, lantaran pengunjuk rasa membawa poster dan spanduk sembari berorasi. Pengunjung kelas menengah ke atas itu akhirnya tahu jika selama ini karyawan yang bekerja di Carrefour dengan sistem kontrak.

"Sudah hampir enam tahun saya bekerja di Carrefour, namun nasib saya ke depannya tidak jelas karena saya selama ini hanya bekerja dengan sistem kontrak. Dengan cara seperti ini, saya sewaktu-waktu bisa didepak dan tak diperpanjang kontraknya jika ada kesalahan sedikit," tandas seorang karyawan yang mengaku bernama Satria, bagian penjualan.

Lelaki bertubuh sedang dengan rambut agak pelontos menjelaskan keberadaan PT Carrefour Indonesia sudah sebelas tahun menjalankan bisnisnya yang pertama di Jakarta dan kini sudah berkembang ke kota-kota besar di Jawa. Sayangnya pertumbuhan cabangnya yang pesat, ternyata tidak diiringi dengan tingkat kesejahteraan yang memadai, fasilitas jaminan kerja yang kacau balau dan kenyamanan kerja tidak terjamin.

"Sekarang ini perusahaan sedang dalam keadaan yang mengkhawatirkan, para pekerja menolak adanya sistem kerja kontrak juga praktek PHK (Putusan Hubungan kerja) yang dijalankan secara sepihak dan karyawan selalu dalam posisi yang kalah. Karenanya kami melakukan aksi aspirasi ini supaya pemerintah dan masyarakat tahu tentang kondisi sebenarnya di Carrefour," ujarnya.

Dikatakan, kekhawatiran karyawan dimulai dari tutupnya Carrefour cabang Ratu Plaza, Carrefour Mega Mall Pluit maupun cabang Mollis Bandung. Karena itu, serikat pekerja selalu khawatir terjadi PHK masal jika masih ada kantor cabang yang hendak ditutup

Untuk itu, timpal Ronald, karyawan bagian pendistibusian, serikat pekerja menolak sistem outsoursing serta sikap pemutusan hubungan kerja sepihak, jika terjadi penutupan toko. Dan meminta pemerintah bersikap adil terhadap semua permasalahan yang dialami kaum pekerja

Ketua Umum DPP SPCI, Abdul Rachman menambahkan keresahan karyawan sudah lama terjadi, dan selalu dilakukan jalan damai karena perusaahaan siap menampung aspirasi karyawan. Sayangnya, perusahaan tak punya etikad baik untuk menjalin hubungan kerja yang harmonis, terbukti sistem kontrak kerja masih terjadi dan PHK juga tak pernah berhenti. Kbc10

Bagikan artikel ini: