Pembaca koran beralih ke online, penjualan kertas menipis

Jum'at, 9 September 2016 | 08:56 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Era media digital secara langsung berdampak terhadap penurunan kinerja industri kertas, khususnya yang memproduksi kertas koran di Tanah Air.

Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Misbahul Huda mengatakan, industri kertas cukup tertekan karena tidak terlalu banyak orang yang membaca media cetak dan beralih ke digital.

"Isu paper less misalnya koran atau media cetak agak turun. Mana ada sih sekarang yang masih suka baca koran, sebagian ada yang pakai gadget," ujar Misbahul sambil menirukan tangan menggeser layar telpon pintar yang digenggamnya, di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Kamis (8/9/2016).

Selain itu, permintaan atau demand juga berkurang karena pada 20 bulan belakangan tidak ada proyek pengadaan buku. Hal itu membuat penyerapan terhadap pemakaian kertas berkurang sehingga perusahaan-perusahaan penyedia kertas lesu.

"Pemakai kita terbesar dari pendidikan turun. Kita tahu sepanjang tahun nggak ada proyek-proyek pengadaan buku yang menyerap pemakaian kertas, sampai kemudian beberapa bulan terakhir mau mengadaan lagi tetapi banyak pengusaha percetakan sudah pingsan semua kelamaan sudah 20 bulan baru ada lagi," ujar Misbahul.

Ia menuturkan, produksi industri kertas sedikit, yaitu sebanyak 10,4 juta ton pertahun. Sedangkan produksi pulp per tahun 6,4 ton.

"Kenapa begitu, kita ketahui bahwa industri kertas untuk cetak agak tertekan sementara yang masih bertumbuh berkembang kertas untuk industri seperti tisu dan kardus," ujar Misbahul.

Ia mengatakan, dari 10,4 juta ton per tahun telah diekspor 4,2 juta ton. Negara yang menjadi tujuan ekspor adalah sebagian daerah Jepang, Timur Tengah, Pakistan, Turki. Sedangkan 50% dari produksi masih dikonsumsi lokal.

Justru ia memperkirakan produk industri pulp dan kertas yang akan tumbuh adalah packgaging, kardus, dan tisu. Ia memprediksi pada akhir tahun akan tumbuh 1-2%, tetapi ia tidak menyebut berapa pertumbuhan saat ini.

Saat ini dengan kondisi tekanan global AS dan Eropa sedang turun, maka China juga mengekspor produknya di pasar Asia. Ini lah yang menjadi kompetitor Indonesia karena China menggunakan mesin besar yang efisien, kalau Indonesia memakai mesin bekas dan kurang efisien.

"Sehingga terjadi penurunan secara rupiah, nilai rupiah dolarnya. Tapi secara volumenya nggak," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: