ExxonMobil ajukan tambahan produksi Banyu Urip 2017

Selasa, 23 Agustus 2016 | 07:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: ExxonMobil akan mengajukan penambahan produksi Lapangan Banyu Urip pada rencana kerja dan anggaran (work plan and budget/WP&B) 2017 meskipun pada revisi WP&B 2016 upaya tersebut tak mendapat restu.

Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil Indonesia, Erwin Maryoto mengatakan, penaikan produksi Banyu Urip menjadi 200.000 barel per hari (bph) akan diajukan pada WP&B 2017.

Padahal, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menolak usulan tersebut pada revisi WP&B 2016.

Alasannya, keputusan tersebut memerlukan analisis dampak lingkungan (Amdal), penambahan biaya operasi hingga pertimbangan dari sisi subsurface.

Dengan demikian, produksi Lapangan Banyu Urip tetap sesuai dengan kapasitas pada produksi puncak yakni 185.000 bph.  

"ExxonMobil Cepu Limited bersama para mitra Blok Cepu akan mengajukan peningkatan produksi hingga 200 ribu barel per hari tersebut kepada SKK Migas pada siklus penganggaran dan perencanaan atau WP&B tahun 2017," ujarnya, Senin (22/8/2016).

Lebih lanjut, dia menganggap penambahan produksi tersebut tak akan berpengaruh terhadap biaya investasi. Sementara, dari sisi biaya operasi mungkin akan mengalami sedikit penyesuaian guna merealisasikan target tersebut.

"Peningkatan produksi minyak Banyu Urip hingga 200.000 barel per hari, tidak memerlukan tambahan biaya investasi, hanya membutuhkan tambahan biaya operasi yang sangat kecil."

Deputi bidang Pengendalian Operasi SKK Migas Muliawan Haji mengatakan pihaknya masih melakukan kajian dari sisi subsurface atau dasar sumur apabila produksi akan ditambah.

Menurutnya, akan lebih baik bila produksi dilakukan sesuai kapasitas fasilitas produksinya. Beberapa pertimbangan, tutur Muliawan, seperti biaya tambahan, keekonomian juga harus kembali ditinjau dengan rencana penambahan produksi tersebut.

"Kan harus dimodifikasi itu, ada biaya tambahan. Jadi perlu dihitung keekonomiannya di samping subsurface-nya perlu di-review lagi sama ahli-ahlinya," ujarnya usai menghadiri acara Bright&Green Towards Fisheries Sustainability di Jakarta, Senin (22/8/2016).

Dia menganggap aspek lainnya yang harus dilihat yakni perkiraan harga minyak di tahun depan. Pasalnya, sistem bagi hasil yang digunakan merupakan sistem dinamis yang memberikan keuntungan lebih banyak kepada kontraktor yakni ketika harga minyak rendah.

Dengan demikian, pihaknya harus melihat rencana tersebut dari segala aspek. "Split-nya dari EMCL (ExxonMobil Cepu Limited)  itu tidak flat. Untuk harga minyak tertentu di bawah US$45 sampai US$40 itu split dia (kontraktor) besar," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: