Kemas laba bersih Rp4,8 triliun, Saratoga akhirnya bagi dividen

Jum'at, 5 Agustus 2016 | 10:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Portofolio investasi PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) pada semester I-2016 tumbuh 26 persen. Investasi Saratoga tumbuh dari Rp13,6 triliun menjadi Rp17,1 triliun.

Dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis (4/8/2016), Presiden Direktur Saratoga Michael WP Soeryadjaya mengatakan, laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham sebesar Rp4,8 triliun, yang mencakup one-off gain sebesar Rp2,2 triliun. Sebagian besar, akibat dari perubahan penyajian pelaporan keuangan dan Rp2,6 triliun dari peningkatan nilai pasar atas investasi Saratoga di Adaro Energy dan Tower Bersama.

Michael menambahkan, Saratoga terus menerapkan pendekatan yang disiplin dengan prinsip kehati-hatian dalam menyeleksi peluang investasi. Di awal tahun ini, Saratoga masuk ke sektor rantai pasokan logistik pendingin (cold-chain logistics) dengan mengakuisisi saham PT Mulia Bosco Logistik (MGM Bosco).

Transaksi tersebut memberikan peluang yang sangat baik bagi Saratoga dalam membangun platform di sektor cold-chain logistics yang sangat menarik, mengingat selain memiliki pertumbuhan tinggi, sektor ini juga memiliki prospek yang cerah sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur logistik vital di negara ini.

Selain itu, Saratoga juga melakukan divestasi kepemilikan saham Saratoga di PT Pulau Seroja Jaya senilai Rp98 miliar yang menghasilkan internal rate of return (IRR) sebesar 48 persen selama delapan tahun. Tahun ini, Saratoga juga memutuskan untuk membagikan dividen pertama kali sejak IPO tahun 2013.

“Pertumbuhan dan penguatan portofolio investasi Saratoga membuktikan bahwa strategi investasi dan model bisnis yang selama ini diterapkan telah sukses menciptakan nilai bagi perusahaan-perusahaan investasi Perseroan. Kami percaya, strategi ini akan terus memperkuat bisnis Saratoga dan mengembangkan portofolio investasi secara lebih optimal, sehingga kami dapat memberikan kontribusi yang lebih besar kepada perekonomian Indonesia,” ujar Michael. kbc10

Bagikan artikel ini: