Tutup operasional di Indonesia, Ford digugat pemilik diler Rp1 triliun

Selasa, 28 Juni 2016 | 21:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keputusan pabrik otomotif asal Amerika, Ford, untuk mengakhiri usahanya di Indonesia memukul para dealer resmi penjualan dan servis Ford di Indonesia.

Harry Ponto, pengacara yang ditunjuk sebagai kuasa hukum 31 outlet dealer Ford di Indonesia mengatakan, apabila diperhitungkan, angka kerugian itu mencapai hingga Rp 1 triliun. Untuk menuntut ganti rugi terhadap PT Ford Motor Indonesia dan Ford Motor Company, pemilik dealer telah mengajukan dua kali somasi, yang pertama dilayangkan pada 1 Juni 2016 dan somasi kedua pada 13 Juni 2016.

“Jadi, lebih-kurang total investasi ada di situ (Rp 1 triliun), karena tanah itu dibeli bergantung pada tempat dan berapa luas. Kalau satu gedungnya saja, itu sewa seharga Rp 20-30 miliar, dan itu ukurannya relatif kecil,” ujar Harry Ponto.

Pemilik 11 outlet dealer Ford yang telah menjadi mitra lokal Ford sejak 2002, Andee Yoestong, mengatakan sebelum Ford memutuskan untuk menutup usahanya, pada Desember 2015, pihaknya masih dikejar-kejar untuk memenuhi target pembukaan outlet baru di Puri Pesanggrahan, Jakarta Barat. Padahal outlet mereka sebelumnya terletak di Jalan Panjang, Jakarta Barat, dan didirikan di lahan sewa.

“Sebagai bukti keseriusan, kami sudah mendapatkan IMB untuk pembangunan di lokasi Puri Pesanggrahan tersebut," tutur Andee.

Untuk membuktikan keseriusan para dealer dalam bekerja sama dengan Ford, sejak September 2015, mereka telah membuktikan komitmen dengan membuka 9 outlet dealer baru secara serempak di Bumi Serpong Damai (BSD), Bintaro, Depok, Jakarta Selatan, Palu, Bandung, Palembang, Lampung, dan Pontianak.

Untuk menunjang penjualan Ford dalam rangka ASEAN Better Plan yang mulai dikenalkan pada 2011, wilayah Jakarta yang semula terdiri atas lima primary market area (PMA), akan dikembangkan menjadi 29 PMA. Sebagai tindak lanjutnya, pada 9 September 2015, diadakan grand opening untuk sembilan outlet dealer Ford yang dipusatkan di Ford BSD.

Namun Andee kaget saat mengetahui FMC tiba-tiba menutup secara sepihak operasional Ford per 25 Januari 2016 dan pergi begitu saja dari Indonesia tanpa ada pembicaraan terlebih dulu kepada para mitra dealer-nya. Sedangkan para dealer sudah mengeluarkan investasi ratusan miliar untuk memenuhi permintaan Ford.

“Hal ini bukan saja mengecewakan, tapi juga memalukan untuk brand internasional sebesar Ford, karena mereka gagal memenuhi komitmen mereka kepada mitra lokal,” ucap Andee.

Kenny Kusuma, dealer Ford Bali, mengatakan keputusan Ford hengkang begitu saja dari Indonesia membentuk persepsi buruk bagi penanam modal asing di Indonesia. Perilaku sewenang-wenang ini akan berakibat negatif bagi kepercayaan pengusaha nasional untuk bermitra dengan investor asing karena risiko kerugiannya terlalu besar untuk ditanggung.

“Perilaku investor asing seperti ini sangat melecehkan dan merugikan pengusaha Indonesia,” kata Kenny. kbc10

Bagikan artikel ini: