Produsen kertas Suparma incar penjualan Rp2,1 triliun di 2016

Kamis, 26 Mei 2016 | 01:16 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Emiten produsen kertas PT Suparma Tbk (SPMA) meyakini bahwa kondisi ekonomi nasional tahun ini akan membaik. Untuk itu perseroan menargetkan penjualan bersih mencapai Rp 2,1 triliun dan laba bersih sebesar Rp 58 miliar sepanjang tahun 2016.

Direktur PT Suparma Tbk Hendro Luhur mengatakan, optimisme tersebut didasarkan bahwa sejumlah faktor yang muaranya secara umum kondisi ekonomi nasional membaik, sehingga akan meningkatkan daya beli masyarakat.

"Beberapa faktor itu diantaranya adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil sehingga ekonomi juga stabil. BI juga telah menurunkan suku bunga acuan alias BI Rate, sehingga akan diikuti oleh penurunan bunga kredit perbankan dan diharapkan bisa menggerakkan sektor riil," kata Hendro usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan di Surabaya, Rabu (25/5/2016).

Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap peningkatan daya beli masyarakat, seperti Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP) dari Rp 3 juta menjadi 4,5 juta.

”Baru kali ini pemerintah menaikkan PTKP lebih dari 50 persen. Sehingga takehome pay masyarakat yang bekerja semakin tinggi dan itu otomatis mendongkrak daya beli. Karena itu kami optimis, tahun ini pasar kertas di Indonesia akan naik signifikan,” ujarnya.

Sepanjang kuartal I tahun 2016, Suparma membukukan penjualan sebesar Rp 470 miliar. Angka ini naik 28,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Hasil positif juga ditorehkan perseroan dengan diraupnya laba berjalan sebesar Rp 49,4 miliar di kuartal I tahun ini. Padahal tahun lalu periode yang sama masih rugi Rp 21,4 miliar.

”Karena itu kami optimistis. Ini awal yang baik. Dan kami percaya triwulan berikutnya akan lebih baik lagi. Dan semoga kondisi perekonomian tahun ini akan membaik,” tambahnya.

Sementara sepanjang tahun 2015 perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp 1,622 triliun, tumbuh 4,6% dibanding penjualan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,551 triliun. Kenaikan ini lebih disebabkan pada kenaikan harga jual kertas.

"Karena sebagian besar bahan baku perseroan harus diimpor, sementara hampir 90% penjualan kami untuk pasar lokal, apalagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turun sebesar 11% di tahun 2015, perseroan mengalami rugi bersih Rp 42 miliar," beber Hendro.

Ditambahkannya, jika saat ini komposisi penjualan perseroan masih didominasi jenis duplex yang sebesar 50%, kertas laminating 30%, dan tisu 20%, ke depan pihaknya akan meningkatkan produksi untuk kertas tisu, mengingat potensi pasarnya cukup besar.

"Sasarannya adalah hotel, restoran dan kafe. Bisnis ini masih bertumbuh. Demikian juga segmen pasar kertas laminating yakni makanan dan minuman yang masih membaik pasarnya," ujarnya. kbc7

Bagikan artikel ini: