Bulan ini, luas panen padi capai 2 juta hektare

Jum'at, 15 Januari 2016 | 13:26 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Anomali perubahan iklim kemarau panjang di sejumlah sentra tanaman padi utama di Tanah Air akan berakhir pada Januari. Bahkan, luas panen pada bulan ini diperkirakan mencapai 2 juta hektare (ha).

"Standing Corp (pertumbuhan tanaman padi yang diketahui melalui penginderan satelit yang dimiliki NASA) seluas 4,8 juta Ha pada fase generatif," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan) M. Syakir menjawab kabarbisnis.com, kemarin.

‎Syakir mengakui, sejumlah sentra tanaman padi mengalami kemunduran musim tanam seperti Aceh, Sumatera Utara bagian timur, Jambi dan Riau. Selain itu Jawa Barat bagian Utara, sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. 

Syakir mengatakan intensitas curah hujan di wilayah tersebut masih di bawah normal. Namun, curah hujan di luar wilayah tersebut umumnya sudah mendukung untuk ditanami padi.

Syakir menambahkan, informasi pertumbuhan tanaman padi diperoleh melalui Sistem Informasi Kalender Tanam (Katam) terbaru yakni versi 2.3.  Melalui aplikasi ini memuat rekapitulasi tingkat nasional pada Musim Hujan Oktober 2015-Maret 2016 tentang luas baku sawah yang mencapai 8,9 juta Ha.

Luas baku sawah itu mencakup komoditas tanaman padi,jagung dan kedelai.‎Potensi luas tanam MH I untuk padi sawah seluas 7,6 juta ha. Sementara untuk MH II untuk padi sawah seluas 5,5 juta ha.

‎Untuk jagung dan kedelai, potensi luas tanam pada MH I seluas 285.0000 ha.Adapun MH II seluas 681. 350 ha.

Kementan bersama Badan Meterologi Klimatologi Gofisika (BMKG) menyusun kalendar tanam yang dinamis.Sedianya,kalendar ini memperkirakan dan menjadi penentu produksi pangan,jumlah benih, pupuk serta jenis tanamnya.

Masing -masing wilayah memang berbeda. Menyesuaikan curah hujan, evaporasi. Kalendar tersebut memperkirakan dan menjadi penentu produksi pangan,jumlah benih dan pemupukan,

Syakir tidak menampik anomali perubahan iklim yang ekstrem saat ini membuat error kalendar tanam. Namun, adanya monitoring via satelit dapat meminimalisir resiko petani mengalami gagal tanam.Karena itu dia berharap informasi ini dapat disampaikan para penyuluh kepada petani.‎ kbc11

Bagikan artikel ini: