Reshuffle kabinet jilid II diminta diisi para profesional

Selasa, 27 Oktober 2015 | 08:33 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Desakan agar pemerintah melakukan perombakan (reshuffle) kabinet jilid II terus mengemuka. Bahkan hasil survei Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa publik mendorong Jokowi-JK untuk melakukan reshuffle Jilid II. Sebanyak 52,7 persen responden memandang perlunya reshuffle jilid II.

"Sementara 42,3 persen publik memandang tidak perlu reshuffle jilid II dan 4,9 responden tidak tahu dan tidak menjawab," ungkap peneliti CSIS Philips Vermonte di Jakarta, Minggu (25/10/2015).

Survei ini dilakukan pada 14-21 Oktober 2015 yang melibatkan 1.183 responden yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Responden merupakan warga Indonesia yang mempunyai hak pilih pada Pemilu 2014.

Penarikan sample secara multi-stage random sampling dengan margin error sekitar 2,85 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Dari survei tersebut, kata Philips, sebagian besar publik menginginkan tambahan kursi di kabinet diberikan kepada kalangan profesional. Dia mengungkapkan sebanyak 66,4 responden menyatakan tidak perlu diberi tambahan kursi untuk PDIP dan 50,5 responden juga tidak ingin tambahan kursi untuk kabinet dari partai lain di Koalisi Indonesia Hebat (KIH).

"Publik memandang bahwa perlu banyak kalangan profesional yang mengisi alokasi kabinet jika terjadi reshuffle jilid II. Sebanyak 63,4 persen responden sepakat kalangan profesional mengisi reshuffle kabinet," paparnya.

Philips menilai publik mendorong reshuffle jilid II yang diisi kalangan profesional karena sejumlah menteri tidak bekerja maksimal sehingga tuntutan reshuffle semakin menguat.

"Kalangan profesional dibutuhkan oleh Jokowi-JK karena mereka membutuhkan kemampuan teknokrasi yang siap bekerja. Evaluasi selama ini, menteri dari kalangan parpol tidak bisa berbuat banyak dan tidak bisa memecahkan masalah," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: