Kemenkeu tepis kesulitan serap belanja modal

Rabu, 8 Juli 2015 | 21:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menepis tudingan Bank Dunia ketidakmampuan menyerap belanja modal sebagai salah satu penyebab utama melambatnya pertumbuhan ekonomi tahun 2015.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara dalam acara Indonesia Economic Quarterly (IEQ) 2015 di Jakarta, Rabu (8/7/2015), mengatakan, apa yang disebutkan Bank Dunia perekonomian yang melambat sekarang ini menunjukkan seolah-olah Indonesia telah mengalami pertumbuhan di masa lalu. Sebelumnya, Bank Dunia menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi 2015 di 4,7% dari semula 5,2%.

Menurut Suahasil, dalam menilai perekonomian sekarang ini harus melihat realitas yang ada. "Pemerintah ini kan baru. Belum lihat keuntungannya. Sebetulnya ekonomi bukan melamban. Dan gain dari pengalihan subdisi Rp 290 triliun itu masih ada di depan kita. Ini belum melihat pertumbuhan karena efektif anggaran pertengahan Februari. Pemerintah hanya mengerjakan bulan Maret atau April dan saya rasa tidak adil manfaat atau keuntungan pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan," beber Suahasil.

Suahasil menyatakan, meski efektif belanja pemerintah dilakukan mulau Maret 2015, namun realisasi penyerapan anggaran per 30 Juni tahun ini sudah mencapai 39% dari target APBN. Sementara itu, realisasi pendapan negara juga mencapai 39,6% dari target hingga akhir tahun ini.

"Jadi pemerintah atau birokrasi itu mulai kerja bulan Maret, bukan Januari. Dan kita lihat dalam empat bulan saja penyerapan kita mengalami pertumbuhan sebesar itu. Ingat, APBN-P itu baru disahkan pertengahan Februari, dan pemerintah mulai kerja April, tapi belanjanya sudah mencapai 39,0%," terangnya.

Ia menambahkan, terkait dengan persepsi Indonesia yang juga perlu diperhatikan adalah peningkatan peringkat dari Standard & Poor`s dari stabil ke positif. Hal ini menunjukkan perubahan terhadap apa yang terjadi di ekonomi Indonesia menjadi lebih baik. Bahkan Indonesia mampu menjual global bonds 4.8 kali dan lainnya yang melebihi target, yang menunjukkan pasar telah mendukung.

Kendati pertumbuhan ekonomj kuartal pertama tahun ini hanha 4,7%, menurut Suahasil, namun Indonesia sejatinya punya ekspektasi lebih baik lagi. "Jadi yang kita butuhkan adalah rasa percaya diri. Yakin tumbuh dan berjalan pada jalur yang tepat. Semua hal ini merupakan keyakinan dalam pelaksanannya.

Jadi kenyataannya manfaatnya (relokasi anggaran subsidi untuk infrastruktur) belum kita rasakan. Manfaatnya itu bukan melambat. Tapi memang belum kita rasakan. Ada di depan mata," pungkasya.kbc11

Bagikan artikel ini: