Teknologi pengawetan kayu diperkenalkan untuk atasi masalah deforestasi

Kamis, 23 April 2015 | 15:32 WIB ET
(istimewa)
(istimewa)

JAKARTA, kabarbisnis.com: Untuk mengatasi laju deforestasi yang setiap tahun semakin meningkat, Badan Litbang Kehutanan mengenalkan teknologi baru berupa pengawetan kayu. Teknologi ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman dalam menekan tingkat deforestasi di Indonesia, sehingga tujuan dari konservasi sumberdaya hutan akan terpenuhi.

Peneliti Badan Litbang Kehutanan, Mohamad Iqbal, Kamis (23/4) mengatakan, deforestasi merupakan salah satu permasalahan di Indonesia. Data terakhir dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa laju Deforestasi Indonesia mencapai 832.126,9 ha/tahun. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan laju Deforestasi tersebut.

Salah satu teknologi terbaru yang digunakan untuk mengurangi laju deforestasi adalah dengan pengawetan kayu. Dengan proses tersebut, terbukti dapat mengoonversi hutan alam kurang lebih 192.000 ha setiap tahunnya.

Pasokan kayu yang dibutuhkan pada saat 15 tahun pertama untuk membangun dan mengganti rumah yang lapuk (tidak diawetkan) sebesar 432 juta m3 , sedangkan pasokan kayu yang diawetkan untuk membangun saja hanya sebesar 216 juta m3. Hal ini menunjukkan, dalam jangka waktu 15 tahun pertama kayu yang diawetkan dapat menghemat sebesar 14,4 juta m3 /tahun. Jumlah tersebut sama dengan 28,8 juta m3 kayu bulat yang bila dikonversi setara dengan 192.000 ha dengan asumsi potensi kayu per hektare 150 m3.

Iqbal menambahkan, bahwa nilai tersebut diperoleh apabila kebutuhan kayu untuk membangun rumah sederhana sebesar 18 juta m3/tahun untuk 5,9 juta unit rumah. Selain itu, diasumsikan bahwa kayu yang tidak awet sebesar 80% dari seluruh kayu bahan perumahan, sehingga setiap tahun terdapat 14,4 juta m3 kayu tidak awet untuk perumahan.

Apabila kayu tidak diawetkan maka akan menimbulkan kerugian yang lebih besar, yaitu kurang lebih 1,816 triliun per tahun atau setara 363.600 ha hutan dengan potensi 100 m3/ha. Perhitungan tersebut diperoleh dengan menggunakakan asumsi 10% tebangan hutan untuk mengganti konstruksi karena pelapukan. Misalnya realisasi pasokan kayu per tahun sebesar 36,36 juta m3 akan menghasilkan 3,636 juta m3 kayu rusak karena lapuk. Dan harga kayu dolok rata-rata Rp 500.000,-/m3. kbc9

Bagikan artikel ini: