Ini cara Pertamina hemat US$100 juta dari merosotnya harga minyak

Senin, 9 Februari 2015 | 15:48 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Pertamina (Persero) menargetkan penghematan biaya pengapalan elpiji, Minyak Mentah, dan BBM di atas US$100 juta atau sekitar Rp 1,25 triliun (kurs Rp 12.500)  dengan optimalisasi penggunaan kapal milik untuk pengangkutan kargo impor.

VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan Pertamina tengah menggencarkan program Marketing and Operation Excellence sebagai respons dari situasi industri migas dunia yang sedang alami turbulensi karena harga minyak mentah yang jatuh.

"Pertamina melihat peluang penghematan dengan optimalisasi pemanfaatan kapal-kapal milik yang didukung dengan kebijakan perubahan pola pembelian impor dari semula Cost and Freight menjadi Free on Board, baik untuk LPG, minyak mentah, maupun BBM," ujar Ali di Jakarta dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (9/2/2015).

Ali mencontohkan dengan pemanfaatan VLGC Pertamina Gas 2 untuk mengangkut LPG dari Uni Emirat Arab dihasilkan penghematan sebesar 23 juta dollar AS dalam setahun atau 11 voyage.

Apabila VLGC Pertamina Gas 1 juga dimanfaatkan untuk hal yang sama, dapat dihasilkan penghematan sedikitnya dua kali lipat.

"Ini bahkan melampaui target awal untuk Shipping Excellence yang merupakan bagian dari program Marketing and Operation Excellence yang semula ditargetkan dapat menghemat sekitar 86 juta dollar AS per tahun," terang Ali.

Ali menjelaskan dengan semakin banyaknya kapal milik yang digunakan untuk mengangkut kargo impor akan sejalan dengan strategi menuju World Class Shipping.

Artinya, kapal-kapal milik Pertamina mendapatkan standard dan klasifikasi Internasional sehingga dapat berlayar ke pelabuhan mana saja di dunia, seperti Pertamina Gas 1, Pertamina Gas 2, MT Gunung Geulis, MT Gamsunoro, dan MT Gamkonora.

Saat ini, Pertamina mengoperasikan 64 kapal milik dari total sekitar 200-an kapal untuk mengangkut Minyak Mentah, BBM, dan LPG.

Manajemen Pertamina telah menargetkan untuk sedikitnya menguasai sekitar 90 unit kapal milik untuk mendukung efisiensi biaya pengangkutan Minyak Mentah, BBM, dan LPG sehingga lebih kompetitif.

Menangapi hal ini,pengamat energi dari Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Dzakaria menyambut positif cara cerda manajemen khususnya di divisi pemasaran dalam melakukan efisiensi tanpa harus menimbulkan gejolak di internal Peramina.Menurutnya, langkah terobosan harus dapat dikembangkan pada divisi lainnya.

Sofyano memberi contoh, penjualan Pelumas untuk kendaraan bermotor didalam negeri bisa menjadi ladang bisnis besar bagi pertamina."Paling tidak tersedia potensi pasar sebesar 500.000 kilo liter pelumas pertahun. Ini peluang pasar pelumas kendaraan bermotor saja.

Jika pertamina menguasai 50% saja, ini bisa mendongkrak laba pertamina. Kuncinya Pertamina harus kreatif, berfikir cerdas dan kerjakeras untuk cari peluang baru disektor hilir," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: