Fortune Mate terbebani utang Rp124 miliar

Senin, 29 Juni 2009 | 16:46 WIB ET

SURABAYA-

PT Fortune Mate Indonesia Tbk masih terbebani utang sekira Rp124 miliar. Per triwulan pertama 2009, perseroan juga masih merugi Rp5,4 miliar.

Direktur Utama Fortune Mate Tjandra M. Gozali mengatakan, utang perseroan per 2008 mencapai Rp124 miliar, naik Rp20 miliar dibandingkan posisi 2007. Utang itu datang dari utang bank, utang usaha, utang lain-lain. "Posisi triwulan pertama 2009 masih belum banyak berubah dibandingkan akhir tahun lalu," ujarnya di sela RUPS perseroan di Surabaya, Senin (29/6/09).

Menurut Tjandra, sejumlah utang yang akan jatuh tempo pada tahun ini akan diperpanjang. "Semua utang masih akan diperpanjang. Tidak ada kompensasi apa pun, karena kreditur melihat kinerja kami masih cukup prospektif ke depannya," jelasnya.

Direktur Fortune Mate Aprianto Soesanto menambahkan, per triwulan pertama 2009, pihaknya mampu membukukan penjualan sebesar Rp8 miliar. Namun, karena selisih kurs, emiten berkode FMII itu harus menanggung rugi sebesar Rp5,4 miliar.

Pada 2008, Fortune Mate juga membukukan rugi Rp25,9 miliar. Sales perseroan mendaki 7,28% menjadi Rp42,56 miliar per 2008 dari posisi 2007 sebesar Rp39,67 miliar.

Padahal, pada 2007, Fortune Mate masih menangguk untung Rp4,52 miliar, namun setelah dilakukan kuasi reorganisasi laba menjadi Rp270 juta. Kuasi reorganisasi adalah standar akuntansi sebuah perusahaan dalam merestrukturisasi ekuitasnya dengan menghilangkan defisit, kemudian diadakan revaluasi seluruh aset dan kewajiban berdasarkan nilai wajar. Prosedur akuntansi ini dilakukan untuk membuat perseroan memiliki neraca yang tidak dibebani defisit, sehingga bisa mencerminkan nilai saat ini.

Berdasarkan catatan kabarbisnis.com, perseroan tercatat berutang kepada PT Bank Mestika Dharma sebesar Rp15 miliar. Pada Desember 2008, perseroan memperpanjang fasilitas pinjaman ini hingga Desember mendatang. Rate dari pinjaman ini sebesar 14,76%.

Selain itu, perseroan tercatat mempunyai utang dari Royal Investment Holding, Hong Kong, sebesar Rp25 miliar. Pinjaman ini jatuh tempo pada 31 Mei 2009. Royal Investment melakukan konversi terhadap utang tersebut menjadi berdenominasi dolar AS dengan patokan kurs Rp8.928 per US$ 1. Bunga utang dari kreditur ini sebesar 2,5% per tahun.

Utang ke Royal Investment bertambah pada 2007, karena perseroan mengajukan pinjaman baru sebesar US$4 juta. Utang ini jatuh tempo pada Desember 2009.

Perseroan juga tercatat mempunyai utang ke First Property, Hong Kong, sebesar US$3 juta dengan bunga 2,5% per tahun. Berdasarkan catatan kabarbisnis.com, utang ini sebenarnya jatuh tempo pada Mei 2008, namun sudah diperpanjang hingga April 2009.

Fortune Mate juga menambah utang ke First Property sebesar US$2 juta pada 2007 yang akan jatuh tempo pada Desember 2009, dengan bunga 2,5% per tahun.

"Semua utang-utang tersebut akan coba diperpanjang oleh perseroan," imbuh Aprianto.

Posisi rasio total utang terhadap ekuitas perseroan terus mendaki, dari 63% pada 2007 menjadi 89,29% pada 2008. Sementara rasio total utang dibanding aset sebesar 40,45% pada 2008 dibandingkan posisi 2007 yang sebesar 33%.

"Semua kewajiban masih terkelola dengan baik. Kami merestrukturisasi kredit sesuai arus kas perseroan. Kemampuan perseroan untuk melunasi kewajiban masih sangat kuat dengan upaya pengembangan pasar yang sudah kami miliki," terang Tjandra. kbc9

Bagikan artikel ini: