PAL bidik sarana pengeboran migas lepas pantai

Minggu, 2 September 2012 | 14:10 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Upaya perbaikan kinerja terus dilakukan oleh PT PAL Surabaya. Selain melakukan efisiensi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perkapalan yang masih merugi tersebut berupaya memperbesar pasar dengan mulai membidik pembangunan rig atau peralatan pengeboran migas lepas pantai (off-shore).

Direktur Utama PT PAL Surabaya, Muhammad Firmansyah Arifin mengatakan, potensi pembangunan Rig di Indonesia saat ini cukup besar. Selain karena pemberlakuan asas cabotage, juga dipicu oleh kian bergesernya pekerjaan pengeboran minyak dan gas dari darat atau on-shore ke laut atau off-shore.

"Dulu pengeboran minyak banyak di darat, sekarang mulai bergeser ke laut dan pastinya harus menggunakan peralatan Rig offshore. Sementara dalam asas cabotage, Rig juga masuk kategori kapal yang harus berbendera Indonesia," ujar Firmansyah kepada kabarbisnis.com, Minggu (2/9/2012).

Hal inilah yang kemudian mendorong perusahaan asing untuk menggandeng perusahaan dalam negeri untuk membangun Rig, salah satunya adalah PT PAL. Saat ini, sudah ada dua perusahaan asing yang bekerja sama dengan PT PAL untuk pembangunan Rig untuk pengeboran minyak offshore, yaitu Petronas asal Malaysia dan Daewoo asal Korea Selatan.

Diungkapkan Firman, saat ini PT PAL memang tengah membangun dua unit Rig. Satu unit pesanan dari Petronas untuk proyek Bukit Tua dengan nilai US$54 juta dan satu unit untuk proyek Banowati di Madura.

"Selain itu, kami juga tengah membidik pembangunan Rig untuk proyek Jangkrik di daerah Natuna, kerja sama dengan Daewoo dengan nilai kontrak sebesar US$600 juta," ujarnya.

Selain pembangunan Rig, lanjutnya, saat ini PAL juga tengah membangun kapal CNOOC pesanan China dengan nilai kontrak sebesar US$42 juta dan kerja sama dengan Korea proyek pembangunan tiga unit kapal selam serta kerja sama dengan Belanda untuk pembangunan kapal pengawal kapal rudal (PKR) sebanyak satu unit.

"Untuk pembangunan kapal selam, dua dibuat di Korea dan satu unit dibuat di PAL. Untuk proyek tersebut, kami telah mengirimkan sebanyak 182 ahli mesin ke Belanda untuk belajar guna transfer teknologi. Sementara dengan Belanda, kami mengirimkan sebanyak 70 ahli mesin. Dengan harapan, ke depannya seluruh kapal bisa dibuat di PAL," ungkapnya.

Melalui berbagai terobosan tersebut, diharapkan sampai akhir tahun target pendapatan sebesar Rp1,2 triliun bisa dicapai. kbc6

Bagikan artikel ini: