UMKM perlu dipacu dengan strategi kluster

Selasa, 26 Juni 2012 | 18:26 WIB ET
Wakil Ketua Umum Kadin Jawa Timur Bidang UMKM, M Rizal
Wakil Ketua Umum Kadin Jawa Timur Bidang UMKM, M Rizal

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diharapkan memakai strategi kluster. Strategi kluster penting untuk diterapkan agar UMKM-UMKM bisa berkembang dengan cepat dan terfokus.

"Dengan strategi kluster, kinerja UMKM juga mempunyai nilai tambah yang kuat di pasar," ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Bidang UMKM, M. Rizal.

Rizal mengatakan, strategi kluster UMKM telah sukses dilakukan di banyak negara. Pabrikan kendaraan besar seperti Toyota juga didukung oleh kluster industri kecil yang memproduksi komponen kendaraan.

"Di Jatim, meski wacana kluster UMKM ini sudah ada sejak dulu, belum ada eksekusi yang serius dari pemerintah sebagai regulator. Belum ada linkage yang kuat antara satu sentra UMKM dan sentra lainnya yang sejenis," tutur Rizal.

Dalam strategi kluster, kata Rizal, kelompok-kelompok UMKM ditempatkan sesuai kategori industri sejenis atau yang saling terkait ke dalam satu kawasan, baik itu desa, kecamatan, sentra industri, maupun menghubungkan sentra industri di beberapa kota sekaligus. "Keterkaitan itu baik dari sisi produk, SDM, teknologi produksi, maupun pembiayaan," jelasnya.

Sentra alas kaki di Wedoro, Sidoarjo, misalnya, bisa dikembangkan dengan menautkan ke sentra sepatu di Mojokerto atau Jombang. Pengembangan juga bisa dilakukan lintas provinsi dengan memaksimalkan kawasan Karisma Pawirogo (Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Magetan, Pacitan Ngawi, dan Ponorogo) atau Ratubangnegoro (Blora, Tuban, Rembang, dan Bojonegoro) sesuai potensi bisnis yang bisa ditemalikan di berbagai kabupaten tersebut.

Menurut Rizal, strategi kluster akan mampu menghasilkan efisiensi produk dan menghasilkan nilai tambah yang besar bagi perekonomian. Dia mencontohkan produk kerajinan kayu. Di Jatim, harus dipetakan mana daerah yang benar-benar punya potensi kuat dalam komoditas tersebut.

"Tidak boleh semua daerah menghasilkan kerajinan kayu. Jika semua daerah mengembangkan komoditas tersebut, akan terjadi kelebihan penawaran. Sesuai hukum ekonomi, maka harga akan turun. Pelaku usaha sendiri yang akhirnya dirugikan. Nah, dengan strategi kluster UMKM, bisa dipetakan daerah mana yang memang dispesialisasikan untuk menggarap komoditas tersebut. Demikian pula untuk produk lain seperti alas kaki, komoditas pertanian, maupun perikanan," terangnya.

Memang, kata dia, penerapan strategi kluster awalnya akan menimbulkan kompetisi ketat antarpelaku industri yang ada di dalamnya. Namun, dengan kompetisi tersebut, teknologi produksi di antara UMKM-UMKM yang ada akan berkembang, Pemetaan pasar juga mendorong UMKM-UMKM yang ada untuk terspesialisasi dengan sendirinya seiring dengan perkembangan pasar hingga kemudian mendorong alih teknologi. "Jika proses ini semakin mature, peningkatan skala bisnis dan bahkan integrasi antarpelaku industri sangat dimungkinkan terjadi," jelasnya. (advertorial)

Bagikan artikel ini: