Pertamina buka tender 10 kapal US$200 juta

Rabu, 25 April 2012 | 15:57 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Pertamina Perkapalan (Persero) terus berupaya memperbanyak jumlah kapal tanker miliknya sebagai upaya pemenuhan asas cabotage yang telah ditetapkan pemerintah.

Untuk itu, pada tahun ini rencananya Pertamina akan membuka tender pembangunan 10 unit kapal tanker baru dengan nilai di kisaran US$200 juta. Enam unit adalah kapal jenis tanker dengan bobot 17.500 LTDW ke bawah, sementara empat unit adalah kapal jenis tanker dengan bobot 17.500 LTDW keatas.

"Tahun ini kami akan kembali membuka tender pembangunan kapal baru. Untuk yang berbobot di bawah 35.000 LTDW, kami telah berkomitmen untuk mendahulukan galangan dalam negeri. Sehingga nantinya yang akan kami undang seluruhnya adalah galangan kapal dalam negeri. Sementara untuk kapal tanker dengan bobot di atas 35.000 LTDW akan kami buka tender secara internasional, jadi galangan luar negeri nantinya juga bisa ikut," ujar Senior Vice President PT Pertamina Perkapalan (Persero), Suhartoko usai peluncuran kapal KM kasim yang dipersan PT Pertamina di DPS, Surabaya, Rabu (25/4/2012).

Upaya pembangunan sejumlah kapal baru tersebut untuk memenuhi target kepemilikan kapal sendiri sebesar 50% hingga 2018. Hingga saat ini, jumlah kapal yang milik Pertamina masih sekitar 47 unit kapal atau sekitar 25% dari total unit kapal yang dioperasikan. Sampai 2016, diperkirakan jumlah tersebut akan bertambah menjadi 82 unit kapal karena selesainya beberapa kapal yang sedang dibangun dan sudah ditenderkan.

"Jumlah kapal kami yang sedang dibangun di galangan dalam negeri mencapai 9 unit, di antaranya dibangun di PT Dok Perkapalan Surabaya (DPS), PT PAL Surabaya, di galangan kapal Batam dan Lampung. Sementara yang dibangun di luar negeri mencapai 6 unit diantaranya di China dan Jepang. Sehingga total kapal Pertamina yang sedang dibangun mencapai 15 unit kapal," ujarnya.

Selain untuk menggantu kapal sewa yang persentasenya masih sangat tinnggi, pembangunan kapal tersebut juga dilakukan untuk mengganti kapal Pertamina yang umurnya di atas 30 tahun. Dari 47 unit kapal yang telah dimiliki, kapal yang sudah terbilang tua mencapai 10 unit.

"Untuk itu, kami akan terus melakukan pembangunan kapal hingga beberapa tahun ke depan. Dengan memiliki kapal sendiri, operasionalnya lebih fleksibel, baik untuk distribusi BBM ataupun untuk mengimporBBM jika memang diperlukan. tdiak seperti kapal sewa yang jalur operasionalnya harus sesuai dengan perjanjian" tegasnya.

Apalagi sampai saat ini pendistribusian BBM masih tetap dibebankan kepada Pertamina, sehingga pemenuhan kebutuhan BBM di seluruh Indonesia menjadi kewajiban Pertamina.

"Kendala terbesar dalam distribusi BBM sejauh ini hanya faktor cuaca, ketika syahbandar tidak memperbolehkan kami untuk berlayar. Kondisi inilah yang seringkali mengakibatkan kelangkaan BBM di sejumlah daerah, terlebih daerah yang terpencil yang pengirimannya sangat sulit," tarangnya. kbc6

Bagikan artikel ini: