Libatkan warga lokal di bisnis tambang

Senin, 5 Maret 2012 | 12:53 WIB ET
Presdir dan CEO PT Padmanaba Putra Mandiri, Bambang Pramukantoro
Presdir dan CEO PT Padmanaba Putra Mandiri, Bambang Pramukantoro

Bambang Pramukantoro, Presdir dan CEO PT Padmanaba Putra Mandiri

SURABAYA, kabarbisnis.com: Wilayah Indonesia sangat kaya akan sumberdaya pertambangan. Terbujur dari Sumatera hingga Papua, negeri ini punya kekayaan tambang yang melimpah-ruah, tak terkecuali di Jawa Timur.

Di Jawa Timur, potensi sektor pertambangan sangat besar, mulai dari pasir besi hingga emas. Produksi bahan galian C mencapai 29,45 juta ton per tahun. Jatim menyimpan cadangan batu kapur sekitar 6 miliar ton, dolomit 1,67 miliar ton, dan marmer 531 juta ton. Ini belum lagi potensi energi panas bumi yang masih perlu digarap di Ngebel (120 megawatt/MW dengan perkiraan investasi 360 dollar AS), Blawan, Ijen (270 MW, investasi 945 dollar AS), Arjuno, Welirang (230 MW, investasi 690 dollar AS), dan Argopuro (185 MW, investasi 592 dollar AS).

"Potensi pertambangangan itu harus bisa dikelola dengan baik demi kesejahteraan masyarakat," ujar Presdir dan CEO PT Padmanaba Putra Mandiri, Bambang Pramukantoro, dalam perbincangan dengan kabarbisnis.com.

Padmanaba mempunyai bisnis pertambangan pasir besi, di antaranya di kawasan Wotgalih dan Paseban, Lumajang. Lumajang sendiri dikenal sebagai penghasil pasir besi dengan kualitas terbaik di Indonesia. Rata-rata kadar besinya antara 30% hingga 40%. Bahkan, di beberapa kawasan kadar besinya mencapai 60%. Karena kualitasnya itulah, pasir besi asal Lumajang kerap digunakan untuk proyek-proyek besar di tanah air.

Bambang mengakui, selama ini ada anggapan keliru tentang dunia pertambangan. Dunia pertambangan dinilai hanya mengeruk kekayaan alam, namun lupa memberdayakan masyarakat di sekitar area tambang. "Anggapan itu harus dibalik. Ini menjadi tantangan bagi para pelaku usaha pertambangan untuk meningkatkan sinergitas dengan masyarakat dan lingkungan," beber Bambang.

Dia mencontohkan, dalam operasi tambang, perusahaannya berkomitmen pada penyerapan tenaga kerja lokal. Komposisi tenaga kerja lokal bisa mencapai 80% dari total pekerja. Pekerja dari luar daerah hanya untuk pos khusus yang belum bisa diisi oleh pekerja lokal. "Keberadaan pekerja dari luar daerah itu sebenarnya juga memberi stimulus ekonomi bagi bisnis makanan dan properti di area tambang. Artinya bisa membuka lapangan kerja baru. Tapi kita tetap berkomitmen memprioritaskan para pekerja lokal," ujarnya.

Selain soal penyerapan tenaga kerja, sambung Bambang, sinergi dengan masyarakat juga dilakukan dalam bentuk lain. Misalnya, memberi porsi saham bagi masyarakat lewat koperasi di tingkat desa atau melalui pemerintah desa. Keuntungan dari pembagian saham itu bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur desa hingga pengembangan fasilitas pendidikan. "Dengan demikian, kapasitas masyarakat bisa terangkat," ujarnya.

Tentu saja bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) lainnya juga harus dilakukan, seperti pelestarian lingkungan, pemberian bantuan pendidikan, dan fasilitas kesehatan.

"Secara umum, praktik tanggung jawab sosial perusahaan yang menguntungkan warga dimulai dari tata kelola organisasi perusahaan yang baik, perekrutan tenaga kerja, etika bisnis yang pro-pelestarian lingkungan, hingga pemasaran produk yang tidak merugikan konsumen. Itu semua akan membalik anggapan bahwa perusahaan tambang selama ini hanya menumpuk laba dan mengabaikan masyarakat serta lingkungan," pungkas Bambang. [advertorial]

Bagikan artikel ini: