Daya saing daerah kerek kualitas pertumbuhan

Kamis, 26 Januari 2012 | 11:23 WIB ET
Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Jawa Timur Bidang Pemberdayaan Kadin Kota/Kabupaten, Lilik Indriyanto
Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Jawa Timur Bidang Pemberdayaan Kadin Kota/Kabupaten, Lilik Indriyanto

Lilik Indriyanto, Wakil Ketua Komite Tetap Pemberdayaan Kadin Kota/Kabupaten Kadin Jatim

SURABAYA, kabarbisnis.com: Penguatan daya saing daerah menjadi harga mati untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih berkualitas. Selama ini, banyak potensi perekonomian di daerah-daerah yang belum banyak tergarap. Sehingga, pembangunan ekonomi belum terdistribusi secara merata dan hanya terpusat di kota-kota besar.

"Karena itu, penguatan daya saing harus dilakukan secara berkelanjutan agar pertumbuhan ekonomi lebih berkualitas karena dirasakan merata ke seluruh daerah," ujar Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Jawa Timur Bidang Pemberdayaan Kadin Kota/Kabupaten, Lilik Indriyanto, di Surabaya, Kamis (26/1/2012).

Lilik mengatakan, di Jawa Timur, misalnya, raihan pertumbuhan ekonomi memang cukup memukau dibanding provinsi-provinsi lain di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Jatim tercatat paling tinggi dibanding provinsi lain.

"Namun, masih ada sejumlah hal yang harus diperhatikan, terutama terkait pemerataan. Pertumbuhan hanya tersentral di kota/kabupaten utama yang berdekatan dengan Surabaya. Sedangkan yang jauh di Surabaya belum tergarap secara optimal," ujar Lilik.

Salah satu indikasi tidak meratanya persebaran perekonomian Jatim bisa dilihat dari penyaluran kredit yang masih terpusat di lima daerah utama, yaitu Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, dan Kediri. Kredit ke lima daerah itu jumlahnya mencapai 68,72 persen dari total kredit perbankan di Jatim.

Belum lagi ketimpangan pendapatan per kapita masyarakat. Hanya pendapatan per kapita masyarakat di lima kota/kabupaten saja (Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, dan Kediri) yang besarnya melebihi pendapatan per kapita nasional.

Karena itulah, sambung dia, harus ada upaya untuk memunculkan potensi-potensi ekonomi di daerah. "Semua pelaku usaha harus menjalin koordinasi dengan stakeholder perekonomian di daerah. Kita harus menemukenali problem ekonomi di daerah serta mencari solusinya agar ekonomi daerah bisa semakin berkembang," ujarnya.

Dia mencontohkan, di kawasan Madiun di sekitarnya yang semua potensinya belum digarap serius, mulai dari skala mikro, menengah, sampai besar. "Contohnya, potensi pertanian hebat, tapi tidak dikerjakan secara komprehensif. Tidak ada integrasi dari hulu ke hilir untuk membangun perekonomian daerah," tuturnya.

Lilik berharap ada konsolidasi di antara semua pelaku usaha. Strategi konsolidasi ini dalam rangka menyamakan persepsi guna membentuk peta jalan (road map) ekonomi berbasis tiga pilar, yaitu investasi, infrastruktur, dan peningkatan perdagangan. "Kalau konsepnya komprehensif antar-wilayah, kita yakin pertumbuhan ekonomi bisa lebih merata ke semua daerah," kata Lilik. kbc5

Bagikan artikel ini: