Bursa berjangka komoditi kian diminati

Kamis, 17 November 2011 | 05:20 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tren perdagangan komoditas di bursa berjangka komoditi kian menanjak. Hingga Oktober 2011, tercatat volume transaksi yang berhasil dibukukan di PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mengalami kenaikan sebesar 124,46% dibanding tahun 2010 di periode yang sama.

"Transaksi komoditas primer di bursa berjangka dalam dua tahun terakhir ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada tahun 2009 volume transaksi hanya mencapai 17.000 lot, di 2010 naik menjadi 233.000 lot dan di tahun ini sampai Oktober sudah mencapai 550.000 lot," tutur Kepala Badan Pengawas Perdagangan berjangka Komoditi, Syahrul R Sempurnajaya usai membuka acara Seminar Nasional Perdagangan Berjangka Komoditi di Hotel Garden Palace Surabaya, Rabu (16/11/2011).

Sementara komoditas yang cukup mendominasi dalam perdagangan adalah CPO dan Olein yang disebabkan oleh tingginya permintaan pasar untuk dua komoditas tersebut. Hal ini terlihat dari percepatan pertumbuhan yang dialami industri minyak besar berbahan baku CPO dan olein seperti Filma dan Sinar Mas di tahun ini.

"Siapa bilang karena harga CPO turun maka volume penjualan di Bursa Berjangka turun. Justru penjualannya mengalami kenaikan dan mendominasi. CPO kan menjadi bahan baku olein dan olein yang akan keluar nilai tambahnya. Apalagi sekarang Filma, sinar Mas semuanya sedang membangun pabrik baru untuk olein. Jadi itu yang akan kita genjot," terangnya.

Terkait komoditas yang akan masuk di bursa berjangka, ia mengatakan ada dua komoditas yang cukup potensial masuk, yaitu timah dan kakao. Dua komoditas ini dipastikan akan masuk kontrak baru ditahun depan.

"Timah dan kakao cukup potensial untuk diperdagangkan di bursa berjangka. Dan saya rasa krisis tidak akan mempengaruhi karena kakao adalah konsumsi dunia. Ini akan banyak dikonsumsi karena kakao adalah makanan utama mereka," kata Syahrul.

Dengan bertambahnya jenis komoditas yang diperdagangkan, ia yakin tahun depan pertumbuhan volume transaksi di bursa berjangka komoditi akan mengalami kenaikan sekitar 30%.

Sementara itu, Syahrul juga menyatakan bahwa Indonesia selayaknya memiliki bursa komoditi yang mampu berdiri sejajar dengan bursa lainnya. Karena Indonesia adalah salah satu negara produsen utama komoditi di dunia yang juga menjadi pemasok utama beberapa komoditi primer seperti pertanian, perkebunan dan pertambangan yang nilainya selalu mengalami fluktuasi.

"KKehadirannya akan memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat, khususnya dalam hal pengelolaan resiko. Sebab kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa ini merupakan salah satu instrumen pasar yang dapat digunakan untuk mengalihkan resiko kerugian akibat fluktuasi harga," tegasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: