Meski negara miskin, Bangladesh bisa produksi laptop termurah

Jum'at, 14 Oktober 2011 | 11:09 WIB ET
Laptop Doel produksi Bangladesh (digitaltrends.com)
Laptop Doel produksi Bangladesh (digitaltrends.com)

DHAKA, kabarbisnis.com: Bangladesh boleh dikenal sebagai salah satu negara miskin. Namun, dalam hal inovasi, Bangladesh ogah menyerah. Terbukti, kini negeri tempat asal peraih Nobel, Muhammad Yunus, itu berhasil memproduksi laptop sendiri yang diberi merek "Doel".

Peluncuran laptop anyar itu bahkan dilakukan langsung oleh Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina dalam sebuah upacara di Dhaka, ibukota Bangladesh.

Dikutip dari BBC, laptop Doel dipasarkan di harga sangat murah, yaitu hanya 10.000 taka (mata uang Bangladesh) atau sekitar US$130 (berkisar Rp1,2 juta). Laptop ini diklaim sebagai laptop termurah sejagat. Laptop yang diproduksi oleh Telephone Shilpa Sangstha (TSS) Bangladesh ini ini memakai sistem operasi android dengan empat model yang berbeda.

"Inovasi ini adalah langkah besar dalam membangun Bangladesh secara digital. Ketika kampung-kampung dapat laptop dengan harga murah, mereka bisa terhubung ke internet dan itu akan menghasilkan banyak manfaat," kata Direktur Pelaksana TSS, Mohammad Ismail.

Saat ini, pembuatan laptop itu masih didominasi oleh komponen impor hingga 90%. Namun, Ismail bertekad, dalam enam bulan ke depan, pihaknya akan memproduksi sendiri 60% komponennya.

Pemerintah Bangladesh mencanangkan seluruh Bangladesh akan terhubung total secara digital pada 2012. Namun, infrastruktur jaringan internet masih menjadi kendala dalam pengembangannya.

"Kami akan menjalankan e-governance di setiap kawasan. Sistem telekomunikasi akan dimodernisasi untuk mengurangi keterpisahan digital," kata PM Bangladesh, Sheikh Hasina.

Bangladesh masih dikenal sebagai negara miskin. Bagladesh menempati urutan ke-70 (dari 88 negara) pada indeks Kelaparan Global (Global Poverty). Bangladesh mempunyai jumlah penduduk terbesar kedelapan di dunia.

Namun, pelan tapi pasti, Bangladesh mampu bangkit. Pendapatan per kapita Bangladesh telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1975 dan tingkat kemiskinan turun 20% sejak awal 1990-an. Kiprah Muhammad Yunus menjadi salah satu bukti bahwa negeri itu mulai bangkit dari kemiskinan. kbc3

Bagikan artikel ini: