Pemkot Surabaya dan pengusaha tak sinergis

Jum'at, 26 Agustus 2011 | 20:50 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Hubungan antara Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan para pengusaha di ibukota Jawa Timur itu ternyata tak kondusif. Hal ini berpotensi mengganggu pergerakan ekonomi Surabaya.

Padahal, hubungan antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim sebagai representasi para pengusaha sangat kondusif.

Ketua Umum Kadin Surabaya, Dr Jamhadi, mengakui jika hubungan antara dunia usaha dan Pemkot Surabaya tidak kondusif. Hal ini berkebalikan dengan hubungan antara Gubernur Jatim Soekarwo dan Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mattalitti yang berjalan harmonis dan terbuka.

"Di Kota Surabaya, jalinan komunikasi WalikotaTri Rismaharini dengan pengurus Kadin Surabaya tak lancar.

Kami telah mengajukan audiensi kepada Ibu Risma beberapa kali, tapi sampai sekarang belum dijawab (belum diterima)," ujar Jamhadi kepada wartawan di Surabaya, Kamis (25/8/2011) malam.

Ibaratnya, Kadin Surabaya telah beberapa kali mengetuk pintu Walikota Risma, namun yang bersangkutan belum membukakan. Jamhadi mengemukakan, dia tak tahu persis kenapa permohonan Kadin beraudiensi dengan orang pertama di Kota Pahlawan itu belum kesampaian. "Mungkin masih sibuk ya," tukasnya.

Padahal, sinergi positif antara Pemkot Surabaya dengan Kadin  itu sangat penting. Sebab, kalangan dunia usaha itulah yang selama ini menggerakkan roda perekonomian kota ini. Dengan tingkat PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kota Surabaya tahun 2010 sekitar Rp 170 triliun dan tingkat APBD Pemkot Surabaya tahun 2010 sekitar Rp 4,5 triliun, sebenarnya peran pemerintah tak terlalu besar dalam menggerakkan roda perekonomian di kota ini. "Iya, swasta yang menggerakkan roda perekonomian, namun pemerintah sebagai regulator juga penting," tandas Jamhadi.

Yang dibutuhkan kalangan dunia usaha di Surabaya sekarang, tambah Jamhadi, adalah iklim berbisnis yang kondusif dan kepastian usaha, sehingga melahirkan ketenangan dalam berbisnis. "Kami ingin Surabaya kembali normal seperti dua atau tiga tahun sebelumnya. Kadin tak berseberangan dengan walikota. Ingat itu. Kita ini partner," katanya mengingatkan.

Realitas iklim bisnis di Kota Surabaya pada akhir-akhir ini yang kurang kondusif, menurut Jamhadi, mesti diakhiri. Caranya, Pemkot Surabaya memberikan iklim kondusif kepada pengusaha dengan berbagai kebijakan yang menguntungkan semua pihak dan menjamin kelangsungan dunia bisnis.

"Sebenarnya kami tak mau kehilangan kesempatan terlalu lama atas potensi ekonomi Surabaya, baik sebagai kota perdagangan maupun jasa. Kita juga prihatin dengan kinerja ekonomi Surabaya yang menurun dibanding kabupaten/kota lain di Jatim akhir-akhir ini. Masak Surabaya kalah dengan Kota Blitar," jelas Jamhadi.

Kendati belum bisa beraudiensi secara langsung dengan Walikota Rismaharini, Kadin tetap melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya membantu Pemkot Surabaya menggerakkan dan mendinamisasi percepatan pertumbuhan ekonomi kota ini. Karena itu, kalau ada masalah-masalah ekonomi lokal Surabaya yang membutuhkan masukan dan alternatif opini pengusaha yang tergabung dalam Kadin, maka Kadin Surabaya bakal memberikan masukan dan telaah.

"Diminta atau tidak atau diterima atau diabaikan, kewajiban kami memberikan masukan kepada walikota dan Pemkot Surabaya tetap kami sampaikan," katanya. kbc2

Bagikan artikel ini: