UMKM didorong tambah produk hilir

Minggu, 31 Juli 2011 | 14:18 WIB ET
Para peserta pengolahan limbah tahu di Banyuwangi
Para peserta pengolahan limbah tahu di Banyuwangi

BANYUWANGI, kabarbisnis.com: Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong untuk menambah produk hilir dari produk utama yang dihasilkan. Produk turunan ini akan memberi nilai tambah ekonomi bagi UMKM.

Hal itulah yang coba dilakukan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur dengan menggelar pelatihan pengolahan limbah tahu bekerja sama dengan Kadin Banyuwangi. Pelatihan yang juga diisi dengan beragam model pemanfaatan limbah tahu ini diikuti oleh puluhan pelaku UMKM di Banyuwangi, Minggu (31/7/2011).

Pelatihan ini merupakan bagian dari program penciptaan dan penguatan UMKM yang digelar Kadin Jatim sejak akhir Mei lalu. Berbagai tema pelatihan telah digelar dengan berbasis pada potensi lokal. Program ini gratis dan bisa diikuti oleh siapa pun UMKM atau calon pengusaha yang berminat.

Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Nelson Sembiring mengatakan, UMKM yang selama ini memproduksi tahu sering mengabaikan manfaat dari air sisa perasan pembuatan tahu. Padahal, jika dimanfaatkan, air sisa limbah itu bisa menjadi potensi ekonomi tersendiri.

"Kami ingin masyarakat bisa memaksimalkan semua peluang yang ada. Air sisa perasan pembuatan tahu pun bisa dimanfaatkan lagi. Jadi, selain memproduksi tahu sebagai produk utama, UMKM di bidang ini juga bisa memanfaatkan air limbahnya untuk dijadikan produk yang punya nilai ekonomis," jelas Nelson kepada kabarbisnis.com, Minggu (31/7/2011).

Dalam pelatihan, para peserta diajarkan tentang pemanfaatan air sisa perasan pembuatan tahu. Selama ini air sisa tersebut menjadi momok masyarakat. Padahal, menurut kajian ahli gizi Unair Prof Dr Bambang Wirjatmadi, kandungan air perasan itu mengandung vit B-12, magnesium dan isoflavon yang tinggi dan sangat berguna bagi kesehatan.

"Dengan pelatihan ini, para UMKM yang sudah memproduksi tahu diharapkan bisa menambah produk hilirnya dengan memanfaatkan air sisa perasan. Sehingga, diversifikasi produk UMKM akan semakin bertambah banyak," tuturnya.

Nelson mengatakan, UMKM yang selama ini mengolah kedelai untuk dijadikan tahu atau tempe, diharapkan tidak hanya menggarap komoditas tahu. Misalnya, dengan membuat berbagai makanan dan minuman berbasis kedelai, seperti susu kedelai, bubuk kedelai, dan bahkan kecap dari ampas tahu yang juga mempunyai nilai gizi.

Selama ini, ampas tahu dibuang dan dijadikan makanan ternak. Padahal, ampas tahu juga masih mengandung protein 8,66%, lemak 3,79%, air 51,63, dan abu 1,21%. "Kalau kita mampu mengolahnya, bisa jadi produk baru, bisa menghasilkan tambahan keuntungan bagi pelaku usaha," kata Nelson.

Kedelai sendiri mengandung protein tinggi, berkisar 35%-43%, lebih tinggi dibanding beras, jagung, tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur ayam. Bila seseorang tidak dapat mengonsumsi sumber protein hewani, maka kebutuhan protein bisa dicukupi dari kedelai. kbc6

Bagikan artikel ini: