AS Tuduh Dumping Udang RI, Ini Strategi KKP

Selasa, 18 Juni 2024 | 21:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan langkah antisipatif terhadap dampak kasus antidumping udang beku Indonesia di Amerika Serikat (AS). Hal itu dilakukan melalui diversifikasi pasar ke beberapa negara potensial, yakni China, Jepang, Australia, dan Korea Selatan (Korsel).

Berdasarkan data ITC Export Potential, udang mentah beku Indonesia (HS 030617) masih memiliki peluang di pasar China dan Jepang, sementara udang matang beku (HS 160521) potensial untuk pasar Jepang, Australia, dan Korsel. Potensi peluang pasar ke keempat negara itu mencapai US$800 juta, setara 121 ribu ton udang beku.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Budi Sulistiyo menjelaskan, pengenaan tarif antidumping dan countervailing duties (CVD) membuat udang beku RI kurang kompetitif di pasar AS. Karena itu, perlu optimalisasi pasar ekspor potensial bagi udang Indonesia yakni yang pangsanya masih kecil.

"Dari data ITC Export Potential, ada peluang pasar altenatif, mengingat kualitas udang Indonesia tak kalah dari negara lain. Upaya diversifikasi pasar udang RI itu tentu perlu didukung peningkatan efisiensi usaha budi daya, pengolahan, dan logistik, sehingga harganya lebih kompetitif," jelas Budi di Jakarta, Selasa (18/6/2024).

Terkait tarif antidumping dan CVD, KKP terus berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kemenkomarves, dan para pelaku udang di hulu-hilir guna memastikan kelancaran ekspor ke AS. KKP juga telah mengirimkan surat kepada Kedubes RI di Washington DC untuk mendapatkan dukungan komunikasi dengan otoritas AS. Hal ini diperlukan dalam proses hearing guna pembelaan terhadap hasil preliminary determination margin dumping udang beku Indonesia.

"Kami terus bergerak melakukan langkah-langkah yang diperlukan guna menyikapi tuduhan otoritas AS terhadap udang dari Indonesia," tegas Budi.

Pada kesempatan berbeda, Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono menargetkan, dalam lima tahun ke depan (2029-2030), Indonesia sudah harus kuat di sektor budi daya perikanan. Indonesia harus mampu menguasai beberapa rantai pasok komoditas global, seperti udang, lobster, kepiting, rumput laut, dan tilapia.

Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP KKP Erwin Dwiyana menambahkan, udang Indonesia di pasar China masih terbuka seiring gap peluang ekspor sampai 2028 yang diperkirakan US$544 juta. "Khusus pasar China, harga udang RI masih dapat bersaing dengan Ekuador," jelas Erwin.

Di pasar Jepang, gap peluang ekspor udang hingga 2028 diperkirakan US$214 juta. Jepang merupakan pasar optimistis bagi udang beku dan udang olahan Indonesia. "Saat ini, RI menduduki peringkat ketiga sebagai negara penyuplai udang terbesar ke Jepang dengan pangsa pasar 16,5%, bersaing dengan Vietnam dan Thailand," jelas Erwin.

Korsel juga pasar potensial dengan gap peluang ekspor diperkirakan US$ 26 juta hingga 2028. Kompetitor Indonesia di pasar Korsel antara lain Vietnam dan Thailand. Untuk pasar Australia yang juga pasar potensial udang RI, perkiraan gap peluang ekspor US$30 juta di 2028. "Kita baru berkontribusi 1,32% di pasar udang Australia," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: