BPS Anggap Konflik Iran-Israel Tak Banyak Pengaruhi Ekonomi RI, Ini Alasannya

Senin, 22 April 2024 | 18:40 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) menilai  konflik Iran-Israel tidak akan berdampak besar ke perekonomian Indonesia. Pasalnya, jika dilihat kinerja ekspor impor dua negara ini tidak memiliki kontribusi besar ke neraca perdagangan Indonesia.

Perdagangan dengan Iran dan Israel didominasi komoditas nonmigas dengan total nilai perdagangan yang relatif kecil.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, selama tahun 2023 total nilai perdagangan ke Iran selama tahun 2023 sebesar US$206,85 juta atau 1,08% terhadap total nilai perdagangan dengan Timur Tengah.

Dengan rincian, nilai ekspor Indonesia ke Iran hanya mencapai US$195,13 juta atau sekitar 2,15% terhadap total ekspor Indonesia ke Timur Tengah. Komoditas utama ekspor ke Iran adalah buah-buahan; kendaraan dan bagiannya; dan berbagai produk kimia.

Sedangkan nilai impor mencapai US$11,72 juta atau kira-kira 0,12% terhadap total impor dari Timur Tengah. Tiga komoditas yang diimpor adalah buah-buahan; bahan bakar mineral; dan bahan kimia organik.

"Dengan demikian Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan dengan Iran sekitar US$183,41 juta. Jadi secara dampak langsung melalui perdagangan akan relatif minimal," ucap Amalia di Jakarta, Senin (22/4/2024).

Sedangkan total nilai perdagangan dengan Israel selama tahun 2023 sebesar US$187,70 juta atau 0,98% terhadap total nilai perdagangan dengan Timur Tengah. Nilai ekspor Indonesia ke Israel mencapai US$165,77 juta atau hanya 1,83% dari total ekspor ke Timur Tengah. Komoditas utama yang diekspor ke Israel adalah lemak dan minyak hewan/nabati; alas kaki; serta mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya.

Pada saat yang sama impor dari Israel sebesar US$21,93 juta atau 0,22% terhadap total impor dari Timur Tengah. Komoditas utama yang diimpor adalah mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya; perkakas dan peralatan dari logam tidak mulia; serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya.

Neraca Perdagangan

Pada kesempatan itu, Amalia juga mengumumkan, neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$4,47 miliar pada Maret 2024. Nilai surplus meningkat US$3,64 miliar dari Februari 2024 dan meningkat US$1,65 miliar dari posisi Maret 2023.

Adapun nilai ekspor mencapai US$22,43 miliar pada Maret 2024. Angka ini meningkat 16,4% dari posisi Februari 2024, tetapi terjadi kontraksi 4,19% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor Indonesia Maret 2024 mencapai US$17,96 miliar, turun 2,6% dibandingkan Februari 2024, dan kontraksi 12,76% dari nilai impor pada Februari 2023.

"Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 47 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus bulan Maret 2024 ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya ataupun dengan surplus yang terjadi pada bulan yang sama pada tahun lalu," ujarnya.

Dia mengatakan, surplus neraca perdagangan Maret 2024 lebih ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas yaitu sebesar US$6,51 miliar. Komoditas penyumbang surplus komoditas nonmigas adalah bahan bakar mineral; lemak dan minyak nabati; serta besi dan baja. Surplus neraca perdagangan nonmigas Maret 2024 lebih besar jika dibandingkan dengan Februari 2024 dan juga dibandingkan dengan periode Maret 2023.

"Pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit sebesar US$2,04 miliar, defisit ini disumbang oleh hasil minyak maupun minyak mentah," kata dia.

Adapun tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat dengan surplus sebesar US$1,5 miliar, India dengan surplus sebesar US$1,43 miliar dan Filipina dengan surplus sebesar US$0,77 miliar. Komoditas penyumbang surplus dengan Amerika Serikat adalah kelompok komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya lalu pakaian dan aksesoris bukan rajutan serta alas kaki.

Sedangkan tiga negara penyumbang defisit terdalam adalah Thailand sebesar defisit sebesar US$0,38 miliar, Brasil dengan defisit sebesar US$0,36 miliar dan Australia dengan defisit sebesar US$0,27 miliar. "Defisit Indonesia dengan Thailand ini didorong oleh beberapa kelompok komoditas pertama serealia ; gula dan kembang kembang gula; serta kendaraan dan bagiannya," kata Amalia.

Kondisi neraca perdagangan secara kumulatif hingga Maret 2024, mengalami surplus neraca sebesar US$7,31 miliar atau mengalami penurunan sebesar US$4,80 miliar jika dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. kbc11

Bagikan artikel ini: