PRISMA: Mekanisasi Pertanian Dongkrak Pendapatan 57 Ribu Keluarga Petani Gurem

Jum'at, 8 Maret 2024 | 10:07 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Penggunaan mekanisasi alat mesin pertanian (alsintan) mampu menekan biaya usaha tani hingga 46%, yang pada gilirannya pendapatan 57 ribu keluarga petani skala kecil (gurem) meningkat rerata 26%. Kontribusinya ini diharapkan mampu mendukung pembangunan ekosistem agribisnis berkelanjutan.

"Peran mekanisasi pertanian berkembang cukup pesat dalam lima tahun terakhir  misalnya pada usaha tani padi dan jagung. Misalnya penggunaan alat panen dan perontok (combine harvester)," ujar Nanang Widyanarko, Principal Business PRISMA dalam seminar Agrina bertajuk "Pertanian Modern: Meraih Peluang Pasar Mesin Pertanian di Indonesia" di Jakarta, Kamis (7/3/2023).

PRISMA merupakan program pengembangan sistem pasar (MSD) yang bergerak di 12 sektor pertanian di enam provinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Timur,Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua dan Papua Barat. Program bilateral pemerintah Indonesia melalui Bappenas dengan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia ditujukkan untuk meningkatkan produktivitas dan peningkatan pendapapatan petani gurem.

PRISMA terlibat di sektor padi, jagung, sapi pedaging, sapi perah, finansial, perlindungan tanaman, kacang hijau, pengolahan tanah, peternakan babi, teknologi informasi dan komunikasi serta mekanisasi. Adapun intervensi mekanisasi dilakukan sejak 2019 lalu telah memangkas waktu kerja di sawah hingga tiga jam atau setara 85% dibanding dengan alat manual.

Penggunaan mekanisasi pertanian ini pun berhasil menurunkan biaya usaha tani hingga 46%. Bahkan terjadi penurunan kerja fisik petani perempuan hingga 90%. Intervensi dalam hal mekanisasi karena biaya usaha tani terbesar adalah di sewa lahan dan tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan penanaman dan pemananen. Namun PRISMA terlebih dahulu fokus keterlibatan mekanisasi terhadap fase pemanenan karena langsung berpengaruh terhadap pendapatan petani.

PRISMA merangkul 11 mitra perusahaan  yang bergerak pemasaran alsintan dan berkomitmen investasi senilai Rp 10,4 miliar di areal pertanian baru.Diharapkan investasi berbentuk revenue sehingga menjamin pelayanan kepada petani. Khusus adopsi petani mekanisasi di Jatim, penggunaan combine harvester meningkat sampai 36%.

"Pendekatan kami adalah pengembangan dari sisi komersialnya. Petani adalah salah satu sistem pasar yakni sebagai penghasil produk dan jasa. Sistem pasar yang ideal bergerak bersama dan memperoleh pendapatan yang sepadan denga apa yang diinvestasikan," tegasnya.

Skema kerja PRISMA, sebut Nanang, adalah melakukan riset,apa saja kendala yang dihadapkan petani yang menyebabkan pendapatannya minim. Dapat disebabkan tidak optimalnya produksi juga besarnya biaya usaha tani. PRISMA mengidentifikasi peluang bisnis yang dapat digarap oleh kelompok petani dan menjembatani akses kepada pelaku pasar.

"Namun semua itu berlaku dengan skema komersial. Pengusaha juga dapat mambangun bisnis yang kompetitif. Tapi concern PRISMA adalah keuntungan finansial yang akan diperoleh petani. Kita hanya memfasilitasi agar petani memperoleh kemudahan akses memperoleh sarana produksi," kata dia.

Karena itu, PRISMA, terus berkomitmen mendorong perluasan adopsi alsintan di tingkat petani. Termasuk berbagi resiko dan pelatihan kepada para mitra petani. Menurutnya, potensi pertumbuhan mekanisasi di Tanah Air masih terbuka luas.

PRISMA juga berupaya mengenalkan manfaat drone bagi usaha tanam padi misalnya pemberian perbenihan dan pemupukan. Pihaknya merangkul Asosiasi Teknologi Tanpa Awak (ASTTA) mengembangkan materi pelatihan penyemprotan lahan bagi operator drone.

Nanang mengakui tantangan adopsi petani menggunakan combine harvester adalah mahalnya harga unitnya yang dapat mencapai Rp 300 juta dan akan ekonomis apabila lahan yang digarap mencapai 3 ha. Atas hal itu,PRISMA menggaet perusahaan agar bertindak sebagai aggregator (pelayanan jasa kepada petani) untuk mengotpimalkan peran  combine harvester secara massif. "Kami dorong pengusaha penyedia jasa combine harvester lokal.Harus ada pihak yang menjual dan purna jual," terangnya.

Nanang mengaskan, pengadopsian mekanisasi akan meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan di keluarga petani. Hal ini akan teruji ketika menghadapi guncangan pasar dan perubahan iklim. "Petani masih mengandalkan pola tanam dan proses panen yang masih manual," harap Nanang.

Guru Besar IPB University Bungaran Saragih menyebut, tingkat mekanisasi Indonesia termasuk salah satu yang terendah di dunia. Salah satu penyebabnya, kata Bungaran, karena Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari pulau-pulau kecil masih menggunakan alat-alat mesin pertanian dari negara kontinental.

Menteri Pertanian (Mentan) di zaman pemerintahan Megawati Sukarno Putri ini mengatakan, Indonesia hingga kini belum mempunyai teknologi untuk memanfaatkan potensi lahan rawa karena terpesona dengan alat-alat mesin dari negara kontinental.Indonesia perlu meniru Jepang yang membuat atau modifikasi alat-alat mesin yang mereka tiru dari negara Amerika Serikat (AS) dan negara Eropa.

Bungaran mengingatkan, perlunya dukungan berbagai stakeholder terkait, meliputi pemerintah, produsen dan distributor alsintan, lembaga pelatihan, hingga lembaga pembiayaan agar mengembangkan adopsi mekanisasi pertanian lebih merata sesuai dengan kebutuhan nasional. Pasalnya, sambung dia, petani memiliki keterbatasan akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan permodalan.

Bagi pelaku usaha yang ingin terjun ke bisnis alsintan, Wahyu Adhi Nugroho, Shari'a Community Banking, Nano Bank Syariah mengatakan, pihaknya saat ini menyediakan skema pembiayaan yang bekerjasama dengan dealer alsintan. Mekanismenya nanti, pelaku usaha atau calon kreditur membeli ke perusahaan penyedia (dealer) alsintan.

"Kemudian customer baru diproses pinjamannya. Alsintan tersebut nantinya menjadi jaminan terhadap pinjaman tersebut. Jadi untuk mendapatkan pinjaman tidak bisa langsung ke bank, tapi harus berkolaborasi dengan dealer," katanya.

Wahyu menambahkan, pihaknya telah mengembangkan skema angsuran yang disesuaikan income pelaku usaha. Misalnya, jika pendapatan dari alsintan tersebut tiga bulan sekali, maka angsuran dapat dibayar tiga bulan sekali juga. "Rate pinjaman yang kami berikan juga kompetitif 10-14 persen pertahun, tergantung risiko usaha alsintan," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: