Fenomena Beras Mahal, Pengusaha Penggilingan: 90 Persen Politik, Sisanya Dagang

Jum'at, 1 Maret 2024 | 07:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tingginya harga beras yang belakangan terjadi di pasaran mendapat sorotan Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi).

Wakil Ketua Perpadi Billy Harianto menilai, masalah perberasan di Indonesia bukan hanya sekadar hubungan pedagang dengan masyarakat atau konsumen semata, namun sarat akan masalah politik di dalamnya.

Bahkan dikatakan Billy, masalah beras ini 90% urusan politik, dan 10% urusan dagang. "Beras itu seksi, politiknya 90 persen, 10 persen murni dagang," ujar Billy baru-baru ini.

Sehingga menurutnya, harga beras di pasar yang cukup fluktuatif ini juga dipengaruhi oleh faktor atau kondisi politik di Indonesia.

Hal itu, dikatakan Billy, yang membuat beras di retail modern beberapa waktu lalu mengalami kelangkaan. Bahkan hingga membuat pembelian konsumen dibatasi maksimal 2 karung ukuran 5 kg.

"Kemarin kan beras langka di ritel diberitakan. Itu betul karena diserbu Caleg yang 5 kilogram. Banyak yang pesan di sini (Cipinang) Caleg itu, tapi tidak mampu produsen karena waktu tidak cukup, akhirnya beli di modern market," kata Billy.

"Beras itu seksi, karena kebutuhan rakyat, gampang dipanasi, gampang dikompori, kalau pangan mahal, pangan mahal, itukan teriak semua. Politiknya 90% beras itu, 10% murni dagang, kalau mahal," imbuhnya. kbc10

Bagikan artikel ini: