Gandeng Apkrindo, Mr Ishii Kupas Potensi Bisnis hingga Mispersepsi Umbi Porang

Selasa, 27 Februari 2024 | 16:45 WIB ET
CMO Mr Ishii, Charlie Shirataki (kiri) bersama Ketua Apkrindo Jatim Ferry Setiawan pada gathering bertajuk
CMO Mr Ishii, Charlie Shirataki (kiri) bersama Ketua Apkrindo Jatim Ferry Setiawan pada gathering bertajuk "ISHIIDAILY" di Surabaya, Selasa (27/2/2024).

SURABAYA, kabarbisnis.com: Dalam beberaopa tahun terakhir, budidaya umbi porang mengeliat di masyarakat. Dengan potensi bisnis yang dijanjikan, komoditas umbi porang menjadi primadona baru kalangan petani daerah. Apalagi Presiden Jokowi mendukung penuh pengembangan porang dari sisi pertanian hingga perindustriannya.

Sayangnya, perkembangan industri penanaman Porang masih memiliki banyak mispersepsi. Porang masih sering disamakan dengan tepung terigu ataupun tepung singkong yang siap konsumsi. Alhasil, saat ini banyak industri yang mengaku bisa mengolah porang padahal sebenarnya jenisnya berbeda. Beras porang yang dituding sebagai produk akhir dari olahan umbi porang pun menjadi viral.

Guna meluruskan informasi terkait industri dan kegunaan Porang kepada masyarakat, Mr Ishii bersama Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur menggelar acara bertajuk "ISHIIDAILY" untuk mengetahui lebih dalam industri dan kegunaan porang yang sebenarnya, hingga pro kontra di kalangan pelaku bisnis.

"Saya ingin klarifikasi banyak hal terkait industri Porang di Tanah Air. Masyarakat Indonesia harus lebih jeli dan lebih selektif lagi dalam memilih produk untuk dikonsumsinya apalagi terkait nilai gizi dan efeknya bagi kesehatan tubuh masing masing. Bagi konsumen, aneka produk olahan hasil ekstraksi umbi porang pun harus paham membedakan mana produk yang terbuat serat porang asli dan mana produk yang hanya di label terbuat dari porang," kata Charlie Shirataki, Influencer Expert Porang sekaligus Chief Markerting Officer (CMO) Brand Mr Ishii, pada acara tersebut di Surabaya, Selasa (27/2/2024).

Selain mispersepsi di masyarakat, dia bilang, tantangan pengembangan porang di Indonesia juga karena belum adanya regulasi pemerintah terutama terkait industri pengolahan porang. "Jika semua bisa berjalan beriringan, kami yakin porang bisa menjadi penopang ekonomi baru di Indonesia," ujar Charlie.

Mr Ishii sendiri merupakan salah satu brand produk konnyaku dan shirataki di Indonesia yang diproduksi oleh PT Ambico sejak tahun 1971. PT Ambico memanfaatkan glukomanan untuk membuat Konnyaku dan Shirataki dan merupakan produsen bagi lebih dari 90% produk Konnyaku dan Shirataki kering yang ada di Jepang maupun Korea hingga di beberapa negara lainnya.

"Perusahaan kami ada di Pasuruan, Jawa Timur, dengan menggandeng petani porang di Jawa Timur. Melalui merek Mr Ishii, PT Ambico menggerakkan untuk makan konnyaku dan shirataki yang berfungsi sebagai food balancing untuk pola makan yang lebih seimbang," tandas Johan Soedjatmiko, President Director PT Ambico.

Ditambahkannya, setiap produk Mr Ishii memiliki kadar Tinggi Serat (High Fiber) sebagai manfaat utamanya, pastinya low karbo, low sugar dan low kalori, karena bahan baku yang digunakan hanya serat dan air 97%.

Di tempat yang sama, Ketua Apkrindo Jatim, Ferry Setiawan menyambut positif upaya yang dilakukan PT Ambico, di tengah tren kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi makanan sehat yang terus meningkat.

"Produk Mr Ishii ini bisa menjadi substitusi bahan baku makanan yang sehat. Di sisi lain, bagi pengusaha kafe dan restoran, ini akan bisa mendorong untuk pengembangan produk dengan ide dan inovasi baru," ujarnya.

Diakui Ferry, selama ini member Apkrindo Jatim tak hanya terbatas pada pengusaha kuliner, namun juga suplier. Produk yang dipasarkan Mr Ishii yakni Konnyaku dan Shirataki, selain untuk makanan pengganti nasi atau mie, juga bisa dikembangkan untuk jenis boba, cendol, jelly, kalamari, dan sebagainya.

"Inilah fungsi menjadi member Apkrindo, agar pengusaha tahu terkait pengembangan produk, inovasi, regulasi, dan sebagainya," ungkapnya.

Mengenal porang yang asli

Dalam kesempatan tersebut, Charlie menjabarkan sejumlah hal terkait porang. Pertama, penamaan produk. Saat ini, banyak mispersepsi di dunia Porang terkait istilah penyebutan Porang yang membuatnya terdengar berbeda produk padahal sama. Porang dikenal dalam penggunaannya di Bahasa Indonesia, sementara Konjac (Bahasa Inggris) dan Konnyaku Shirataki (Bahasa Jepang).

Kedua, regulasi kejelasan penggunaan. Tepung porang sendiri merupakan produk belum siap makan, karena masih mengandung oksalat tinggi. Hal ini ibarat tepung singkong racun yang belum siap makan karena masih mengandung sianida, namun diambil sari pati-nya untuk dapat dikonsumsi (biasa dikenal dengan tepung tapioca), sama halnya dengan porang.

"Saripati porang yang dapat dikonsumsi disebut dengan glukomanan atau konjac gum yang merupakan zat hidrokoloid atau produk pengental. Produk ini digunakan di industri pembuatan jelly, pengikat makanan olahan, emulsifier keju dan ice cream, lem, tekstil dan banyak lagi," beber Charlie.

Ketiga, lanjut dia, kualitas dan keaslian produk. Banyak pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai cara membedakan produk yang terbuat dari serat Porang. Adapun ciri khas dari jenis makanan tersebut yang paling penting harus memiliki tinggi serat pangan. Selain itu, karena terbuat dari serat maka yang asli harus seperti jelly yang padat, tekstur ini biasanya dirasakan dihidangan berupa Nasi Porang (Nasi Konjac) dan Shirataki. Nasi Konjac sendiri ibarat jelly padat berbentuk nasi, sedangkan Shirataki itu jelly padat berbentuk mie.

"Jika ada pertanyaan, apakah beras Porang atau Konjac (shirataki) yang langsung seduh dan cirinya seperti nasi putih itu asli atau palsu? Jawabnya dipastikan produk tersebut bukan Konjac ataupun Shirataki karena tidak sesuai dengan kriteria di atas," jelas Charlie.

Dia pun berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih mana Konnyaku dan Shirataki yang asli dan mana yang hanya dilabel dengan nama produk Shirataki/Porang. "Sebenarnya bukan beras porang palsu melainkan lebih ke beras putih instan yang dilabel sebagai Porang/Konjac/Shirataki. Terkait kalori, di Konjac rice tidak bisa hilang atau turun. Jika ada yang menanyakan terkait beras konnyaku ini kan memiliki 360 kalori per 100 gram, begitu matang kenapa hanya mengandung 70 kalori? Itu karena beras Konjac yang asli membutuhkan air yang banyak untuk membuatnya," pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: