Gapuspindo: Impor 400 Ribu Ekor Sapi Bakalan Minimalisir Pengurasan Sapi Peternak

Rabu, 21 Februari 2024 | 21:19 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keputusan pemerintah mengimpor sapi bakalan 400 ribu ekor adalah menutup defisit neraca kebutuhan daging sapi nasional. Pasalnya kemampuan produksi sapi peternak hanya 39,1% atau setara 281.640 ton sementara kebutuhannya mencapai 720.375 ton.

"Untuk menutup defisit, kita masih membutuhkan pengadaan daging sapi sebesar 453 ribu ton atau setara 2,5 juta ekor sapi potong .Kalau hanya mengandalkan lokal, justru akan memacu pengurasan sapi milik peternak besar-besaran," ujar Ketua Dewan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Didiek Purwanto kepada kabarbisnis.com, Rabu (22/2/2023).

Dalam rapat koordinasi terbatas menko perekonomian yang turut dihadiri Menteri pertanian, Menteri Perdagangan dan Badan Pangan Nasional bulan Februari 2023, menetapkan proyeksi kebutuhan konsumsi daging sapi nasional mencapai 720.375 ton. Angka ini berdasarkan hitungan konsumen daging per kapita 2,57 kg per tahun dikalikan 279 juta masyarakat.

Sensus Badan Pusat Statistik berkaitan populasi sapi dan kerbau nasional tahun 2023 mencapai 11,3 juta ekor dan kerbau 470,9 ribu ekor. Disebut populasi juga mencakup pedet, sapi muda dan betina.

Survei BPS ini terbilang mengejutkan karena besarnya selisih dari populasi sapi ternak dari laporan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (PKH Kementan) menyebutkan populasi sapi peternak menembus 18,5 juta ekor.

Didiek menilai upaya pemerintah meningkatkan populasi dan produktifitas sapi potong dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ternyata belum memenuhi cepatnya pertumbuhan kebutuhan.Dari laporan PKH Kementan menandakan laporan populasi sapi tidak mencerminkan keadaan di lapangan.

Namun dapat juga disimpulan data PKH Kementan tidak terverifikasi dengan baik sehingga tidak terdapat persepsi terdapat konflik kepentingan. "Tahun 2023, wabah Penyakit Mulut Kuku (PMK) sapi membuat peternak memaksa memotong sapinya.Begitu juga kasus LSD (Lumpy Skin Disease)," terangnya.

Karena itu, Gapuspindo berpendapat impor sapi bakalan 400 ribu ekor sudah merupakan kebijakan yang sudah diprogramkan pemerintah sudah tepat.Keadaan defisit 2,5 juta ekor sapi potong mencermikan Indonesia berada dalan kondisi kritis untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumsi daging nasional. "Akan semakin sulit Indonesia mengagapai swasembada sapi," cetusnya.

Karena itu, pernyataan Guru Besar IPB University Hermanto Siregar yang meminta Kemendag tidak gegabah mengeluarkan PI sapi bakalan, Didiek menilai pendapat tersebut kurang memahami data dan model bisnis industri sapi potong nasional.Begitu pula halnya mencakup tata niaga dan pendistribusiannya.

Ketentuan impor sapi bakalan sebesar 400 ribu ton itu dihitung sejak Januari-Desember 2024. Kebijakan justru mendukung ketersediaan pasokan daging sapi nasional terutama untuk kebutuhan Hari Raya Besar Keagamaan di bulan Maret -April.

Didiek mengingatkan, industri sapi potong yang digemukkan selama dua-tiga bulan merupakan peluang bagi pembudidaya mengoptimalkan sumber daya lokal serta mengungkit sub sektor ekonomi yang saling terkait. Proses penggemukan pertambahan berat badan melibatkan banyak sumber daya lokal serta mampu menjadi pengungkit sektor lainnya seperti transoporasi, logitik pakan rumah potong dan industri turunannya.

Gapuspindo sendiri telah mengajukan Persetujuan Impor (PI) wajib yang diterbitkan Kementerian Perdagangan sejak pekan ketiga Desember 2023 melalui sistem NIK NSW Ina Trade. Karena itu penerbitan PI  merupakan rangkaian kebijakan yang menentukan pemenuhan kebutuhan daging nasional di tahun 2024.

Menurutnya, kecepatan penerbitan PI akan berpengaruh terhadap ketersediaan daging nasional saat bulan Ramadhan hingga Idul Fitri yang kebutuhannya dapat meningkat dua kali lipat. Didiek menambahkan, seluruh anggota Gapuspndo baru menerima PI pada 16 Februari 2024.

Padahal, mengacu Permendag No 25 tahun 2022 tentang kebijakan dan pengaturan impor khususnya pasal 8, penerbitan PI hanya membutuhkan lima hari kerja sejak permohonan diterima. "Sebetulnya kita mendesak agar Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengeluarkan PI. Memang ketentuan peraturannya memang seperti itu," tegasnya.

Selain itu, terdapat tantangan untuk mempercepat pemasukan sapi bakalan ke Indonesia seperti ketersediaan kapal yang terbatas dan cuaca hujan di Australia akan berdampak pada mobilitas pemasukan sapi ke kandang peternak. Didiek mengingatkan, penerbitan PI di pertengahan Februari 2024, bukan di bulan Desember 2024. Artinya, keterlambatan satu bulan itu mengakibatkan anggotanya baru dapat memasukan ke kandang di pertengahan bulan Maret 2024. "Lazimnya pengadaan sapi bakalan dari Australia butuh waktu satu bulan dan harus masuk fasilitas karantina terlebih dahulu," kata dia.

Menyiasati keterlambatan penerbitan PI yang akan mempengaruhi ketersediaan sapi bakalan di bulan Maret-April 2024, menurut Didek, anggota Gapuspindo akan mengeluarkan stok sapi bakalan yang masih tersisa dan dipeliharanya dikandang. Hingga akhir Desember 2023, jumlah sapi bakalan mencapai 125.429 ekor. Dia berharap pasokan sapi bakalan dapat menunjang kebutuhan masyarakat yang membutuhkan daging sapi 'fresh' terutama di saat bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

"Kita bagi dan potong secara proporsial bulan Januar-April sebanyak 31.000 ekor. Sebagian pemasukan di bulan Maret 2024, akan digunakan (dipotong, red) di bulan April 2024. Kita perkirakan hanya menambah daging sapi 6.800-7.200 ton saja," terangnya. kbc11

Bagikan artikel ini: