Terdesak AI, 3 Ribu Pekerja Teknologi Terancam Jadi Pengangguran

Minggu, 28 Januari 2024 | 10:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Penyelenggara Game Developers Conference (GDC) merilis survei tahunan tentang Keadaan Industri Game atau State of the Game Industry. Hasilnya, sebanyak 84 persen dari 3.000 lebih responden mengatakan mereka agak atau sangat prihatin dengan etika penggunaan kecerdasan buat atau Artificial Intelligence (AI) generatif di industri game.

Hasil survei tersebut menguraikan alasan kekhawatiran para pengembang dengan menyebutkan alasan-alasan yang mencakup potensi AI untuk menggantikan pekerja manusia dan memperburuk PHK, atau membuat pengembang terkena kemungkinan keluhan pelanggaran hak cipta. Pengembang juga khawatir bahwa kehadiran AI dapat mengambil data dari game mereka sendiri tanpa persetujuan mereka.

Survei GDC merinci sentimen pengembang mengenai AI berdasarkan jenis pekerjaan. Responden yang bekerja di bidang yang lebih teknis seperti pemasaran, pemrograman, dan bisnis umumnya berpendapat bahwa AI akan berdampak positif pada pekerjaan mereka. Sementara responden yang memiliki jenis pekerjaan kreatif seperti seni, narasi, dan jaminan kualitas merasa AI akan berdampak negatif pada pekerjaan mereka.

"Saya pikir mengganti pekerjaan seseorang sepenuhnya merupakan keprihatinan yang nyata," tulis responden anonim.

"AI harus digunakan untuk meningkatkan kemampuan, bukan mengurangi tenaga kerja," sambungnya.

Pilihan software mesin video game adalah salah satu topik utama yang dibahas dalam survei. Tiga puluh tiga persen dari mereka yang disurvei menggunakan Unity atau Unreal Engine dalam pengembangan.

Pada saat bersamaan ketika survei dilakukan, Unity mengumumkan kebijakan biaya runtime yang bikin heboh industri dan membuat marah sejumlah pengembang indie, sebelum akhirnya kebijakan tersebut dibatalkan. Sehubungan dengan peristiwa ini, sepertiga pengembang yang disurvei mengatakan bahwa mereka telah mempertimbangkan untuk beralih atau mengganti software mesin game.

"Kami telah mempertimbangkan untuk beralih ke Godot, atau membuat [mesin permainan] kami sendiri, agar tidak perlu khawatir tentang praktik bisnis yang curang atau keinginan pemegang saham," salah satu tanggapan anonim yang dikutip dalam survei tersebut.

Setelah pandemi mulai mereda, perusahaan menerapkan kembali ke kantor (return to office/RTO), yang menurut beberapa pengembang berdampak negatif terhadap industri secara keseluruhan.

Lebih dari seperempat pengembang memiliki semacam kebijakan wajib kembali ke kantor. Pada kuartal tersebut, 40 persen melaporkan bekerja di studio AAA dibandingkan 16 persen di studio indie.

Meskipun kebijakan kembali ke kantor berkisar dari lima hari kerja penuh dalam seminggu hingga jadwal gabungan, survei menemukan bahwa penerapan RTO wajib mengakibatkan ketidakpuasan dari para pengembang.

"Mayoritas besar menentang mandat RTO selama 3 hari per minggu, namun pimpinan perusahaan merasa merekalah yang paling tahu," demikian bunyi salah satu respon.

"Gelombang demi gelombang pengunduran diri, hilangnya semangat. Hal ini karena kami telah membuktikan bahwa kami mampu membuat game dari awal, sambil bekerja dari rumah selama pandemi, dan orang-orang tidak mengerti mengapa bukti saja tidak cukup," imbuhnya.

Selain AI, para pengembang juga memiliki kekhawatiran soal krisis PHK yang terjadi di industri ini.

Lebih dari sepertiga responden melaporkan bahwa mereka terkena dampak PHK baik secara pribadi maupun di perusahaan mereka.

Namun, survei ini dilakukan pada bulan September 2023 tepat pada saat Epic Games mengumumkan akan memberhentikan lebih dari 800 karyawan dan sebelum PHK di studio Unity, Embracer Group, dan Bungie.

Lima puluh enam persen responden merasa bahwa PHK terjadi di studio mereka sendiri dan menurut mereka yang disurvei, banyaknya PHK adalah akibat dari koreksi arah pascapandemi.

"Studio tumbuh terlalu cepat selama pandemi dan orang-orang menghabiskan lebih sedikit uang untuk bermain game selama krisis biaya hidup," tulis tanggapan anonim.

Dom Tait, direktur penelitian di Omdia, mitra penelitian GDC untuk survei tersebut, menulis bahwa gelombang PHK saat ini datang dari perusahaan yang menyesuaikan tingkat pengeluaran untuk kembali ke tingkat sebelum pandemi. kbc10

Gelombang PHK mencapai puncaknya pada Januari tahun 2022 tahun lalu, ketika 277 perusahaan teknologi memangkas hampir 90.000 pekerjaan. Sejumlah perusahaan teknologi terpaksa memperhitungkan berakhirnya pasar bullish yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Sebagian besar upaya penyesuaian terjadi pada kuartal pertama tahun 2023, dan jumlah pemotongan terus menurun setiap bulan hingga bulan September, sebelum meningkat menjelang akhir tahun. Salah satu penjelasan atas lonjakan bulan Januari ketika perusahaan menganggarkan anggaran untuk tahun depan.

Sebagian perusahaan belajar bahwa mereka dapat melakukan lebih banyak hal dengan sumber daya yang lebih sedikit. Di Meta, seperti yang diungkapkan oleh CEO Mark Zuckerberg, tahun 2023 adalah "tahun efisiensi", dan saham melonjak hampir 200% seiring dengan adanya pemutusan hubungan kerja sebanyak 20.000 orang.

Kehebohan AI menimbulkan kekhawatiran di banyak aspek perekonomian mengenai hal ini. Menurunnya kebutuhan akan tenaga kerja manusia seiring dengan semakin canggihnya teknologi.

Namun hal ini mempunyai dampak yang lebih langsung terhadap angkatan kerja. Permintaan AI sangat besar sehingga beberapa perusahaan teknologi mengurangi jumlah karyawan di beberapa bagian bisnisnya untuk berinvestasi lebih besar dalam pengembangan produk AI. kbc10

Bagikan artikel ini: