Dukung Program 1 Juta Rumah, 10 Asosiasi Deklarasikan Forum Lintas Asosiasi Perumahan Jatim

Rabu, 17 Januari 2024 | 18:53 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Sebanyak 10 asosiasi pengembang properti di Jawa Timur berkumpul dan menggelar deklarasi "Forum Lintas Asosiasi Perumahan Jatim" di Surabaya, Rabu (17/1/2024). Ke 10 asosiasi tersebut adalah REI, Apersi, Apernas, Asprumnas, Pengembang Indonesia, Apersi Bersatu, Himperra, Deprindo, Apernas Jaya dan ADPSI.

Ketua Forum Lintas Asosiasi Perumahan Jatim, Fikri mengungkapkan bahwa deklarasi ini ditujukan untuk menyamakan persepsi, visi dan misi untuk menyukseskan program pemerintah 1 juta rumah untuk rakyat, khususnya untuk wilayah Jawa Timur.

Ia menegaskan, selama ini masih banyak persoalan yang dihadapi para pengembang perumahan di lapangan untuk merealisasikan target pembangunan rumah yang telah ditetapkan, mulai dari lamanya pengurusan ijin, pajak daerah yang dinilai terlalu tinggi hingga maraknya penjualan kavling ilegal.

"Oleh karena itu kami bersepakat membentuk forum komunikasi bersama yang dapat menyuarakan kepentingan seluruh asosiasi properti di Jatim," tegas Fikri.

Ia menegaskan, ada sejumlah agenda utama yang akan dilakukan, diantaranya adalah meminta pemerintah mempermudah proses perizinan. Karena masing-masing asosiasi menemukan data adanya kendala percepatan perizinan untuk membangun rumah rakyat.

"Ini related dengan statemen pemerintah membangun 1 juta rumah untuk rakyat. Kami ingin program tersebut menjadi nyata, tetapi syaratnya adalah proses kerja harus cepat," tukasnya.

Ia menyontohkan, untuk izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sebagai ganti izin IMB, banyak pengembang yang mengeluh waktu yang dibutuhkan cukup lama, bisa mencapai 4-5 bulan. Padahal saat perizinan masih IMB, waktu yang dibutuhkan sekitar 2 Minggu atau maksimal sekitar 1 bulan. "IMB menjadi PBG masih menjadi isu penting untuk dibicarakan guna percepatan perizinan," katanya.

Selain itu, pajak atau retribusi daerah sektor properti di seluruh kota kabupaten juga dinilai relatif tinggi, mencapai sekitar 5%. Dan ini sangat memberatkan pengembang. "Kalau ingin adanya percepatan, kita dorong adanya insentif pajak daerah untuk pelaku usaha. Harapan kami, retribusi Daerah bisa ditekan sampai 1%," ujarnya.

Terkait makin marak kavling liar, Fikri mengatakan, selain melanggar undang-undang dan menggerus pasar properti di Jatim, bisnis ini juga berpotensi menghilangkan pendapatan asli daerah. "Potensi pendapatan daerah hilang karena mereka hanya menjual tanah. Sementara pengembang properti menjual rumah, sehingga pendapatan daerah didapatkan dari tanah dan bangunan. Kalau dijual tanah saja, maka pendapatan daerah akan berkurang. Dan penjualan kavling liar ini juga rawan terjadi penyimpangan atau pelanggaran tata ruang. Oleh karena itu kami mendorong BPN untuk tidak melakukan proses pecah kavling," tandasnya.

Ia berharap, dengan terbentuknya Forum Lintas Asosiasi Perumahan Jatim ini akan menjadi wadah bagi seluruh asosiasi properti Jatim untuk melakukan konsolidasi dengan seluruh pemangku kepentingan atau stakeholder terkait sehingga target 1 juta rumah bisa tercapai. "Dengan catatan, pemerintah harus mendengar keluhan-keluhan dan kendala di lapangan sehingga menjadi kebijakan yang mudahkan pembangunan rumah," ujarnya.

Agenda kerja lain yang akan dilaksanakan forum ini adalah membuat "Pusat Informasi Properti Jatim" yang akan menjadi rujukan bagi pengembang Jatim dan masyarakat Jatim dalam mendapatkan informasi properti Jatim.

"Ini mungkin akan menjadi pusat informasi properti pertama di Indonesia. Harapan kami, pusat informasi properti ini akan ditiru oleh seluruh pengembang di Indonesia," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: