Sejak 2021, Realisasi Luas Tanam Program Makmur Capai 690 Ribu Ha

Kamis, 28 Desember 2023 | 19:46 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sejak dijalankan pada tahun 2021 sampai desember 2023 ini, program Mari Kita Majukan Usaha Rakyat (Makmur) telah merealisasikan luas tanam sebanyak 692 ribu ha dengan realisasi panen 284 ribu ha dan partisipasi 322 ribu mitra petani.

Jumlah tersebut, total untuk lima komoditas yang dikembangkan, yaitu padi, tebu, jagung, kelapa sawit, dan kopi. Program Makmur dijalankan dengan memperkuat peran BUMN dalam ekosistem pangan nasional yang meliputi aktivitas pendampingan budidaya, pemanfaatan teknologi, off take hasil panen, pendanaan, serta asuransi.

Direktur Utama Holding BUMN Pangan ID FOOD sekaligus Ketua Project Management Office (PMO) Makmur Frans Marganda Tambunan menjelaskan, program Makmur bertujuan untuk mendukung peningkatan produktivitas komoditas pangan. Salah satunya melalui pengintegrasian proses bisnis dari hulu hingga hilir.

"Capaian tersebut melampaui target luas tanam yang ditetapkan yaitu 557 ribu ha.Ini menunjukkan program close loop ekosistem pangan ini tumbuh signifikan dengan skala semakin besar. Tentunya ke depan program ini akan terus ditingkatkan dengan dukungan Kementerian BUMN dan kolaborasi BUMN pangan, perbankan, asuransi, dan logistik," ujar Frans di Jakarta, Rabu (27/12/2023).

Makmur merupakan program yang digagas Menteri BUMN Erick Thohir pada Agustus 2021. Program ini, memberikan pengawasan dan pendampingan intensif kepada petani. Mulai dari pengelolaan budidaya tanaman, digital farming, hingga mekanisasi pertanian.

Frans melanjutkan, sawit sendiri menjadi komoditas terbesar yang dibudidayakan dalam program Makmur. Tercatat luas areal tanam sawit mencapai 224 ribu ha atau 42% di atas target 130 ribu ha.

Budidaya sawit yang dikembangkan oleh PTPN dan PT Pupuk Indonesia ini telah dijalankan di 15 provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung dan Bangka Belitung. Lalu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Barat, dengan melibatkan 55 ribu petani.

Setelah sawit, padi menjadi komoditas kedua terbesar yang dikembangkan. Tercatat luas areal tanam padi telah tercapai 202 ribu ha atau 41% di atas target 117 ribu ha.

Saat ini, budidaya padi Makmur telah dilaksanakan di 18 provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Gorontalo.

Frans mengatakan, aktivitas budidaya padi dalam program ini dijalankan oleh 3 perusahaan yaitu PT Sang Hyang Seri, Pupuk Indonesia, dan Perum Perhutani. Sampai saat ini, aktivitas tersebut telah melibatkan 148 ribu petani mitra dengan luas lahan yang telah dipanen 153 ribu ha.

"Angka ini setara dengan luasan off take. Ini menunjukkan, sesuai skema kerja sama, hasil panen petani langsung diserap oleh BUMN serta pelaku usaha sehingga menjaga kepastian pasar," jelasnya.

Dampak Positif

Selanjutnya, tebu menjadi komoditas ketiga terbesar yang dibudidayakan dalam program ini. Menurut Frans, ID FOOD, PTPN, dan Pupuk Indonesia menjadi perusahaan yang ditugaskan untuk menggenjot produktivitas gula pada program Makmur.

"Makmur menargetkan luasan realisasi tanam tebu 241 ribu ha, sampai saat ini telah tercapai 182 ribu ha dengan jumlah petani mitra sebanyak 55 ribu orang. Pelaksanaan program Makmur komoditas tebu ini berjalan di 6 provinsi, yaitu Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan," sebutnya.

Untuk komoditas jagung, Frans menambahkan, Sang Hyang Seri dan Pupuk Indonesia telah berhasil merealisasikan areal tanam seluas 69 ribu ha di 12 provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Gorontalo.Luasan tanam tersebut lebih tinggi 12% dari target yang dicanangkan yaitu 58 ribu ha. 

Adapun luas panen yang telah terealisasi 52 ribu ha, dengan jumlah petani mitra sebanyak 46 ribu orang. Sedangkan untuk komoditas kopi, tercatat luas tanam yang telah terealisasi sejak 2022 sebanyak 13 ribu ha, atau lebih tinggi 23% dari target 10 ribu ha.

Budidaya kopi program Makmur telah melibatkan 15 ribu petani kopi, sampai saat ini dijalankan PTPN dan Pupuk Indonesia di 7 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Frans mengatakan, peningkatan realisasi Makmur dalam 3 tahun terakhir ini menunjukkan, program integrasi pangan ini telah memberikan dampak positif khususnya bagi para petani mitra. Hal tersebut terlihat dari semakin tingginya partisipasi mitra petani.

Pada 2021 jumlah mitra tercatat 42 ribu petani, pada 2022 naik menjadi 131 ribu petani, dan pada 2023 sampai dengan 21 Desember petani yang bergabung dalam program ini telah mencapai 148 ribu petani. "Diharapkan, kehadiran program ini secara bertahap menumbuhkan kepercayaan dan minat masyarakat untuk bertanam sehingga dapat mendukung peningkatan produksi komoditas pangan kita," jelasnya.

Frans menuturkan, dalam sinergi program Makmur ini, ID FOOD berperan sebagai pengawas dan pendamping proses budidaya serta off taker hasil panen. Selain itu, ID FOOD juga melakukan kerja sama dengan asosiasi dan koperasi sebagai wadah bagi kelompok tani, serta sektor perbankan untuk aspek pendanaan.

Frans mengungkapkan, ke depan, program ini akan terus dikawal dan ditingkatkan skalanya. Dia menegaskan, program ini merupakan bentuk close loop yang mengintegrasikan rantai pasok dari hulu sampai hilir.

"Kami optimistis, terus tumbuhnya pelaksanaan program Makmur dapat mendukung penguatan ekosistem pangan nasional. Hal ini sebagai bentuk dukungan BUMN terhadap percepatan swasembada pangan nasional, serta untuk mewujudkan inklusifitas petani," tutur Frans.

Asisten Deputi Bidang Industri Pangan dan Pupuk Kementerian BUMN Zuryati Simbolon mengatakan, Program Makmur lahir atas kesadaran bersama kekuatan pangan bersumber pada upaya membangun ekosistem. "Kami sebenarnya sebagian besar dari ekosistem pangan ini. Jadi kenapa tidak kita integrasikan dan kita bentuk ekosistem yang kuat," jelasnya.

Dia memastikan, dengan adanya program tersebut yang mampu meningkatkan produktivitas petani, akan diterapkan pada komoditas pangan lainnya. "Saya berharap (program Makmur) tidak hanya berbicara dari hulu ke hilir, tapi juga pada riset varietas, khususnya tebu. Program Makmur pada komoditas tebu cukup berhasil, ekosistemnya sangat kuat," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: