Duh! Ada 543 Startup Gulung Tikar Tahun Ini

Minggu, 10 Desember 2023 | 14:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tahun ini dinilai menjadi periode 'kepunahan' bagi perusahaan rintisan alias startup teknologi. Perusahaan manajemen ekuitas Catra melaporkan setidaknya tahun ini ada 543 startup bangkrut.

Dalam catatan Catra, sepanjang 2023 nyaris 20 persen startup mengumpulkan dana dengan valuasi yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Kemudian, semakin banyak startup yang bangkrut pada kuartal III-2023.

Pitchbook melaporkan pendanaan modal ventura untuk startup turun lebih dari setengahnya sejak tahun lalu di seluruh dunia. Lalu, angka penggalangan dana tahunan untuk 2023 sedang menuju level terendah sejak 2015.

Akibat keringanya modal dan sempitnya peluang exit strategy seperti lewat IPO, diakuisisi atau merger, startup pemula tak dapat memulai bisnis dan yang sudah eksis mulai jatuh ke dalam krisis.

Tentu saja, raksasa teknologi seperti Apple, Amazon, Alphabet, dan Microsoft baik-baik saja. Namun banyak adik-adik mereka tengah berjuang biar tak gulung tikar.

Buruknya kondisi ini membuat beberapa orang menyebut tren ini sebagai momentum kepunahan startup. Padahal, dulunya perusahaan-perusahaan rintisan ini mudah menggalang uang. AdacWeWork, yang mengumpulkan dana US$11 miliar, Convoy yang menghasilkan SU$900 juta. Kini, keduanya mengajukan pailit.

"Sejumlah besar modal masih terperangkap di startup tahap akhir dan tahap pertumbuhan ventura yang ragu-ragu untuk bertaruh apakah kinerja keuangan mereka dapat bertahan dari pengawasan ketat publik," demikian temuan laporan PitchBook, dikutip, Minggu (10/12/2023).

Para investor yang dulu mengucurkan miliaran dolar AS untuk mendanai perusahaan-perusahaan rintisan tampak tidak senang dengan fenomena ini.

Selama bertahun-tahun sebelumnya para pemodal ventura, angel investor hingga miliarder menggelontorkan uangnya ke perusahaan startup teknologi. Valuasi atau nilai perusahan pun melonjak sehingga bermunculam unicorn, sebutan bagi startup bernilai US$1 miliar atau lebih.

Namun, kini dengan tingkat suku bunga tinggi, kondisi ekonomi yang tidak menentu, dan krisis perbankan, ada kekurangan dana bagi startup baru. Mereka sulit mendapat dana segar.

Bagi investor, ada opsi lain untuk menginvestasikan uangnya. Mereka menaruh uang di instrumen investasi berisiko lebih kecil, tetapi memberikan imbal hasil lebih baik dibanding startup.

Meskipun pendanaan startup dan exit strategy kemungkinan masih terbatas pada 2024, para analis mengatakan masih ada beberapa tanda menjanjikan di masa depan.

Manajer investasi Allve Allan Park menilai pendanaan AI dan bioteknologi masih relatif kuat. Lalu, penawaran saham perdana (IPO) perlahan-lahan meningkat kembali.

Meski begitu, dia memberikan catatan. Katanya, bagi manajer modal ventura dan investor, 2023 adalah tahun yang penuh tantangan.

"Dan belum tentu merupakan tahun yang baik," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: