Pulihkan Produksi 1 Juta Ton, Kementan Inisiasi Tanam Jagung di Eks Kebun Sawit

Rabu, 15 November 2023 | 19:48 WIB ET
Wakil Menteri Pertanian Harvicks Hasnul Qalbi (kiri) didampingi Dirjen Perkebunan Andi Nur Alamsyah usai memberikan arahan Pembahasan Program Kesatria, di Jakarta, Rabu (15/11/2023).
Wakil Menteri Pertanian Harvicks Hasnul Qalbi (kiri) didampingi Dirjen Perkebunan Andi Nur Alamsyah usai memberikan arahan Pembahasan Program Kesatria, di Jakarta, Rabu (15/11/2023).

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong optimalisasi lahan eks kelapa sawit guna memulihkan produksi jagung nasional. Melalui program Kelapa Sawit Tumpang Sari Tanaman Pangan (KESATRIA), diharapkan ada peningkatan produksi jagung hingga 1 juta ton pipilan kering.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi mengatakan,ada peluang yang belum dioptimalkan di industri perkebunan kelapa sawit. Ini khususnya dari aspek hulu di perkebunan kelapa sawit.

"Luas perkebunan kelapa sawit dapat dimanfaatkan secara integratif melalui optimalisasi lahan perkebunan dengan tanaman pangan, seperti jagung dan tanaman musiman lainnya," kata Harvick, Rabu (15/11/2023).

Menurut Harvick, program integrasi tanaman perkebunan dengan tanaman pangan menjadi upaya khusus ketika krisis pangan terjadi secara global. Program KESATRIA, kata dia, harus benar-benar implementatif dan disesuaikan dengan standar yang dimungkinkan secara teknis di lapangan.

"Ini sudah mulai berjalan, yang ditargetkan 1 juta ton. Ini bukan PR (pekerjaan rumah) yang mudah," terangnya.

Dirjen Perkebunan Kementan Andi Nur Alam Syah mengatakan, siap mendorong pemanfaatan lahan perkebunan untuk diintegrasikan dengan tanaman jagung atau tanaman lain. Selain itu, Ditjen Perkebunan akan mendorong swasta untuk ikut berpartisipasi. "Dari hasil identifikasi sementara kami, setidaknya terdapat 175 ribu hektare dari areal perkebunan kelapa sawit yang secara teknis dapat dilakukan integrasi dengan jagung," ujar Andi.

Lahan-lahan tersebut tersebar di 22 provinsi sentral kelapa sawit.Andi memprediksi apabila seluruh lahan bisa dimanfaatkan secara baik, produksi jagung nasional bisa meningkat sebesar 1 juta ton pipilan kering.

"Pertama, tingkat kebutuhan jagung 14 juta ton per tahun, sedangkan pasokan dalam negeri belum dapat mencukupi sehingga impor selalu menjadi jalan keluar," beber Harvick.

Kedua, penanaman jagung di lahan sawit bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak, tapi juga sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pangan. "Ketiga, Indonesia berpotensi menghemat devisa dari impor jagung yang bisa disubtitusikan kepada insentif di sektor hulu," tutur dia.

Merujuk kerangka survey area  Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung dengan kadar air 14% tahun 2023 diperkirakan anjlok menjadi 16,5 juta ton pipilan kering atau setara 2,07 juta ton. Pasalnya, produksi jagung di tahun 2022 masih sebesar 16,53 juta ton.

Anjloknya produksi jagung tahun 2023 ini ditandai dengan susutnya luas areal panen hingga 10% atau 280 ribu ha. Luas panen jagung nasional tahun 2022 sebesar 2,76 juta ha dan tahun ini diperkirakan menurun menjadi 2,49 juta ha.

BPS menyebutkan, Indonesia mengimpor jagung sebanyak 1,09 juta ton pada 2022. Volume itu naik 9,89% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 995.998 ton.

Bahkan, Harvick menuturkan, di tahun ini pemerintah berencana mengimpor jagung sebanyak 500 ribu ton. Ini untuk mengisi cadangan pemerintah dan memenuhi kebutuhan bahan pakan ternak. "Kalau saja optimalisasi lahan perkebunan, khususnya kelapa sawit dapat memenuhi produksi jagung 500 ribu ton, tentu impor bisa kita kurangi atau bahkan bisa kita stop," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: