Penjualan Rumah Diprediksi Bakal Terdampak Kenaikan Suku Bunga Acuan

Selasa, 24 Oktober 2023 | 10:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 bps pada Oktober 2023 ini dikhawatirkan akan berdampak pada penjualan rumah.

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), Joko Suranto mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia di angka 6% bakal memberikan dampak terhadap industri properti di Tanah Air.

Mengingat saat ini mayoritas masyarakat di Indonesia membeli rumah melalui skema kredit dari perbankan di tanah air. Sehingga kenaikan suku bunga acuan apabila direspons dengan kenaikan suku bunga kredit dalam hal ini KPR (Kredir Pemilikan Rumah) bakal mengoreksi target-target penjualan rumah pada tahun ini.

Namun demikian, Joko menjelaskan bahwa penurunan itu tidak akan berdampak jauh pada industri properti. Menurut proyeksinya, dengan kenaikan suku bunga acuan BI yang saat ini 6% maka kemungkinan ada koreksi terhadap target penjualan paling besar 3%.

"Saya yakin industri properti tidak terlalu terpengaruh, taruhlah ada koreksi itu juga relatif kecil lah. Kemungkinan maksimal (terkoreksi) 3 persen lah," ujar Joko seperti dikutip, Selasa (24/10/2023).

Joko menilai, industri properti tidak terlalu berpengaruh dengan kenaikan suku bunga acuan BI. Asalkan perbankan milik negara tidak memberikan respons yang berlebih untuk turut mengerek suku bunga acuan terlalu tinggi.

"Suku bunga BI sebagai acuan itu kan in Lane terhadap kenaikan suku bunga kredit, otomatis kalau seperti itu pastinya target-target, realisasi, itu pasti kalau dari sisi pengusaha akan mencermati dahulu, dan akan membuat gimick tertentu," kata Joko.

Karena menurut Joko, ketika perbankan menaikkan suku bunga kreditnya, maka baik konsumen ataupun pengembang bakal terkena dampaknya. Para pengembang bakal berpikir lebih jauh untuk melakukan ekspansi atau meluncurkan hunian baru, atau konsumen yang menunda pembelian rumah karena bunganya masih tinggi.

"Padahal properti ini menjadi salah satu faktor untuk pertumbuhan ekonomi, backbone manufaktur, ini juga adalah sektor yang merupakan padat karya, ini yang harus dihitung oleh kita semua," lanjutnya.

Menurutnya, kenaikan suku bunga kredit itu akan berdampak pada penjualan rumah non subsidi atau untuk masyarakat berpenghasilan menengah atas. Di satu sisi industri properti saat ini juga masih belum kembali ke titik normalnya penjualan.

Dijelaskan Joko, semisal penjualan properti anggota REI sebelum pandemi 100% mencapai target, maka pasca pandemi hingga saat ini industri properti diperkirakan baru pulih sekitar 75%. Namun kinerja tersebut terancam kembali turun hingga 3% jika imbas adanya kenaikan suku bunga BI.

"Kalau saat ini baru sekitar 75% properti ini kembali, jika dibandingkan dengan sebelum pandemi atau tahun 2019. Tapi sektor ini terbukti secara fundamental bisa mengatasi gejolak ekonomi," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: