Kereta Cepat Sudah Diresmikan, Pemerintah Masih Nego Bunga Utang ke China

Rabu, 4 Oktober 2023 | 08:29 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Kereta Cepat Whoosh Indonesia, namun ternyata pemerintah Indonesia dan China masih terus membahas besaran bunga pinjaman utang atas pembengkakan biaya (cost overrun) proyek tersebut.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan, proses negosiasi besaran bunga pinjaman untuk biaya bengkak proyek KCJB masih berlanjut hingga saat ini. Tiko bilang, saat ini Indonesia telah berhasil menegosiasikan besaran bunga pinjaman itu hingga di bawah 4 persen.

"Final term sheet lagi mau kita keluarkan karena tergantung dari penjaminan. Minggu ini harusnya keluar, tetapi bunganya sekitar 3,6 persen sampai 3,7 persen," jelas Tiko di Jakarta, dikutip Selasa (3/10/2023).

Tiko juga menyebut Kereta Cepat Whoosh Indonesia akan balik modal dalam 40 tahun mendatang. Menurutnya, proyek semacam kereta cepat termasuk dalam proyek infrastruktur transportasi dasar. Menurutnya, proyek ini perlu dibangun dengan visi jangka panjang yang bertujuan untuk mengubah pola peradaban transportasi Indonesia di masa depan.

Dia mengatakan, hal ini sesuai dengan arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut kereta cepat merupakan proyek berorientasi jangka panjang, yakni hingga 40 tahun ke depan.

"Kalau proyek seperti ini balik modal bisa 30 sampai 40 tahun. Tidak mungkin proyek seperti ini horizonnya 10 tahun, harus paling tidak 20 tahun ke depan," jelas Tiko.

Adapun, Indonesia dan China telah menyepakati besaran cost overrun kereta cepat sebesar US$1,2 miliar beberapa waktu lalu. Dari jumlah tersebut, China Development Bank (CDB) akan memberikan dana pinjaman sebesar US$560 juta atau sekitar Rp8,3 triliun dengan asumsi kurs Rp15.100 per dolar AS.

Sebelumnya, Direktur Utama KCIC Dwiyana Slamet Riyadi menjelaskan, pembayaran untuk cost overrun Kereta Cepat akan dibagi sesuai dengan porsi kepemilikan saham dengan konsorsium Indonesia sebesar 60 persen dan konsorsium China sebesar 40 persen.

Dengan demikian, konsorsium Indonesia akan membayar sekitar US$720 juta dan konsorsium China menanggung sekitar US$480 juta yang tersisa.

Dwiyana menjelaskan, dari total cost overrun yang akan dibayarkan oleh konsorsium Indonesia, sebanyak 25 persen akan dibayar menggunakan dana dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai pemimpin konsorsium.

"Kemudian, 75 persen itu dibayarkan menggunakan pinjaman yang telah disepakati dengan China Development Bank (CDB)," jelas Dwiyana. kbc10

Bagikan artikel ini: