Kinerja Ekspor RI Diramal Membaik di 2023, Ini Alasannya

Senin, 25 September 2023 | 09:46 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus dalam 40 bulan berturut-turut, namun terjadi penurunan pertumbuhan ekspor yang cukup tajam.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kinerja ekspor terutama dalam beberapa bulan terakhir memang mulai menurun. Hal ini sejalan dengan melandainya harga komoditas yang sebenarnya sudah terjadi dari awal tahun.

Namun demikian Yusuf menilai, kinerja ekspor masih berpeluang membaik pada tahun ini. Hal ini karena harga minyak global sedang mengalami tren kenaikan. Dia menambahkan, kenaikan harga minyak akan ikut berdampak terhadap kenaikan beberapa harga komoditas lain terutama seperti Crude Plam oil (CPO) dan beberapa komoditas mineral dan batubara.

"Jadi jika trend harga minyak ini terus berlanjut hingga akhir tahun nanti, maka peluang setidaknya ekspor tidak terjerembab lebih dalam dibandingkan posisi saat ini. Itu masih bisa dilihat sampai dengan akhir tahun nanti," kata Yusuf seperti dikutip, Senin (25/9/2023).

Selain itu, faktor musiman pada akhir tahun mendatang juga akan mendorong peningkatan kinerja ekspor, meskipun tidak setinggi pola musiman pada kuartal atau bulan-bulan sebelumnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan mewaspadai penurunan ekspor yang cukup tajam.

"Hal ini perlu diwaspadai mengingat indeks PMI manufaktur di beberapa negara besar seperti Amerika, Kanada, dan Eropa masih berada dalam jalur kontraksi," tutur Sri Mulyani.

Untuk diketahui, pada bulan Agustus 2023, kinerja ekspor turun sebesar 21,21% year on year (yoy), penurunan kinerja terjadi pada sektor Migas maupun sektor nonMigas. Kinerja sektor nonMigas mengalami penurunan, kali ini mencapai 21,25% yoy.

Penurunan yang paling signifikan terjadi pada ekspor minyak goreng kelapa sawit dan batubara jenis lignit, masing-masing turun sebesar 19,39% yoy dan 21,36% yoy. Sektor Migas juga mengalami penurunan ekspor sebesar 20,69 % yoy, yang disebabkan oleh penurunan ekspor gas alam dan minyak bitumen sebagai dampak penurunan harga dan volume ekspor. kbc10

Bagikan artikel ini: