Dosen Universitas Brawijaya damping petani Kediri kembangan pertanian organik

Minggu, 20 November 2022 | 13:18 WIB ET

KEDIRI, kabarbisnis.com: Sejumlah dosen Universitas Brawijaya, Program Studi Agribisnis PSDKU Kampus Kediri melakukan pendampingan kepada petani di Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri untuk mengembangkan pertanian organik sebagai salah satu inovasi dalam melakukan usahatani.

Ketua Tim Dr. Fadli Mulyadi SP, MP. mengatakan inovasi dalam usahtani sangat diperlukan agar petani kian berpengalaman dan kesejahtera mereka makin meningkat. Untuk itu, dalam program pengabdian masyarakat, para dosen memilih tema “Penguatan kelembagaan untuk penerapan dan agribisnis pertanian organic”.

 “Pemilihan Desa Pagung karena Desa Pagung telah memiliki beberapa kelompok masyarakat produktif inovatif, dan sudah ada yang mencoba menerapkan pertanian organic sebagai salah satu inovasi dalam melakukan kegiatan usahatani yang menjadi andalan dari perekonomian desa,” jelas Fadli kepada kabarbisnis.com ketika dikonfirmasi, Minggu (20/11/2022).

Ia berharap, melalui kegiatan ini akan semakin banyak petani lainnya yang ikut mengupayakan usahatani secara organik. Karena sebagian besar petani masih merasa enggan untuk melakukan usatani secara organik.

“Karena mereka sudah terbiasa dengan usahatani secara konvensional yang telah dilakukan secara turun temurun. Salah satu keengganan petani untuk menerapkan sistem pertanian organik adalah karena petani belum mengetahui secara detail konsep dari usahatani secara organik sehingga belum bisa memahami secara jelas tujuan dari usahatani secara organik yang memiliki prinsip keberlanjutan secara ekologi maupun ekonomi,” ujarnya.

Lebih lanjut Fadli mengatakan bahwa kelembagaan usaha tani merupakan salah satu upaya didalam memberikan pemahaman kepada petani. Karena aplikasi pertanian organik memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas dan pendapatan petani.

“Petani yang lebih peduli dengan aplikasi pertanian organik, memiliki produktivitas dan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan petani yang menerapkan pertanian konvensional,” tandasnya.

Oleh karena itu, untuk melakukan penguatan kelembagaan pada kelompok tani dalam penerapan dan pemasaran pertanian organik, maka rencana kegiatan yang akan dilakukan adalah diawali dengan identifikasi dan pemetaan pengetahuan, persepsi dan penerapan pertanian organik oleh masyarakat. Hasil identifikasi permasalahan kemudian dijadikan acuan dalam perancangan solusi.

Solusi terkait permasalahan tersebut kemudian dirumuskan menjadi empat program utama. Pertama peningkatan pengetahuan kelompok tani tentang pertanian organic. Kedua edukasi persepsi kelompok tani tentang penerapan pertanian organic. Ketiga pendampingan penerapan pertanian organik dan ke-empat pendampingan pemasaran pertanian organic.

“Setelah itu dilakukan evaluasi dan rencana tindak lanjut. Tim kemudian akan melakukan pendampingan pelaksanaan kegiatan tindak lanjut baik itu kegiatan penerapan pertanian organik maupun kegiatan agribisnis,” kata Fadli.

Kegiatan tindak lanjut dari pemetaan pengetahuan adalah penambahan pengetahuan dengan memberikan pelatihan pembuatan eco enzyme yang merupakan cairan serbaguna yang dihasilkan dari fermentasi sampah organic seperti kulit buah, sayuran, air gula dan sampah lainnya. Eco Enzym (EE) dapat memberikan dampak luas bagi lingkungan, kesehatan dan ekonomi, dimana salah satu dampaknya adalah dapat mengurangi limbah sisa makanan.

“Pertanian organik, sebenarnya telah menjadi kearifan pengetahuan tradisional yang membudaya di kalangan petani di Indonesia. Namun, teknologi pertanian organik ini mulai ditinggalkan oleh petani ketika teknologi intensifikasi yang mengandalkan bahan agrokimia diterapkan di bidang pertanian,” tambahnya.

Kegiatan ini juga didukung penuh oleh ICAM Halal Centre yang merupakan salah satu lembaga yang fokus pada proses halal pangan dan bahan pangan yang ada di Jawa Timur.

Ketua Dewan Pembina ICAM Halal Center, Dr. H. Edi Purwanto STP, MM. menyampaikan bahwa hasil pertanian organic merupakan komoditi yang tidak perlu diragukan lagi status halalnya sehingga dapat disupport untuk meningkatkan nilai tambah di mata masyarakat.

“Ini adalah momen kebangkitan bagi komoditi hasil pertanian organic karena saat ini halal food menjadi perhatian masyarakat Indonesia bahkan juga menjadi perhatian masyarakat dunia,” tutup Edi yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian dan Pangan Kadin Jawa Timur.kbc6

 

Bagikan artikel ini: