Petani ingin BUMN ikut pasarkan jagung di kawasan regional

Minggu, 25 September 2022 | 07:07 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia berpeluang besar melakukan ekspor jagung di kawasan regional Asia Tenggara (Asean). Peran tersebut dapat diambil baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga dengan membangun pergudangan di negara tujuan ekspor.

Harapan tersebut disampaikan petani sekaligus pengusaha agrbisnis komoditas jagung Dean Novel dalam webinar PATAKA bertema Pro Kontra Ekspor Jagung di Jakarta,baru baru ini. Mengutip data Badan Pangan Nasional (NFA) yang memprediksi produksi jagung nasional untuk pakan ternak pada 2022 akan mengalami surplus antara 2,3-2,5 juta ton pipilan kering.

Adapun Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkan target produksi jagung sepanjang tahun 2022 ini dapat mencapai 23,1 juta ton pipilan kering, naik tipis dibandingkan tahun 2021 sebesar 23,04 juta ton. Petani dan pelaku agribisnis jagung Dean Novel berharap Indonesia  turut mengambil peran untuk mengisi pasar/eksportir di kawasan regional. Dengan membuka diri, usaha tani jagung diyakini akan dapat berkelanjutan.

"Isu ekspor ada di awal Juni lalu, petani di Nusa Tenggara Barat sudah mengusulkan agar Kementerian Pertanian  membuka pintu ekspor jagung. Tapi sampai sekarang belum ada respon," sesal Dean.

Dia beranggapan ekspor jagung menjadi solusi ketika pasar di dalam negeri jenuh karena penumpukan stok di panen raya setara 60% dari total volume produksi sepanjang tahun 2022. Namun menurutnya. berlimpahnya hasil panen jagung tahun 2022 ini menyebabkan jatuhnya harga jagung petani jatuh di bawah harga hub pemerintah sebesar Rp 3.150 per kilogram (kg).

Pasalnya, pada fase tersebut  kemampuan serapan pabrik pakan dengan instalasi paska panennya hanya mampu menyerap 20%. Alhasil mayoritas hasil panen jagung petani belum sesuai spesifikasi industri pakan.

Adapun dari meeting on line dengan dari Dubes Republik Indonesia untuk Brunei Darussalam, sambung Dean, negara tersebut  mengimpor jagung dari Malaysia dan Singapura. "Padahal, Singapura tidak punya areal pertanian jagung," kata Dean.

Dia mencatat, kebutuhan impor jagung Malaysia saat ini sekitar 2,5 juta ton, Filipina 3 juta ton, Brunei Darussalam berkisar 1,5 juta ton, dan Timor Leste 500 ribu ton. Negara-negara itu merupakan yang terdekat dari Indonesia dan bisa dimanfaatkan sebagai pasar ekspor.

"Jadikan peluang. Jadi isu nasional. BUMN dan ID Food bangun Gudang. Ini jadi stragtegi supply chain jadi solusi kelebihan stok agar dapat menyerap jagung  petani. Jadi kebijakan nasional, sekaligus menjadi uji coba neraca komoditas pangan kita. Jadikan kebijakan nasional yang mendatangkan rezeki. Sekalian saja kita jadi pemain, jangan malu-malu. Ekspor jagung sebetulnya sudah lama," katanya.

Widyantoko dari PT Segar Agro Nusantara mengatakan, selama ini pihaknya menjadi pemasok jagung ke perusahaan pakan ternak. Namun jika serapan dalam negeri (pabrik pakan) jenuh karena penjualan pakan turun, maka pihaknya akan melepas jagung ke pasar ekspor. Jagung petani diperoleh dari Gorontalo karena biaya logistiknya jauh lebih murah dikirim ke Philipina atau Malaysia ketimbang dikirim ke Jawa.

"Jika pembelian jagung dari pabrik pakan turun, maka harga jagung di petani akan turun. Kondisi ini akan berdampak ke petani. Karena peluang di pasar internasional terbuka, sehingga dimungkinkan kami menjual ke luar negeri," kata dia.

Widyantoko mengaku, pihaknya harus fleksibel dengan melihat juga penyaluran untuk dalam negeri. Jika melihat produksi jagung sejak tahun 2016, maka rata-rata ekspor jagung hanya 0,84% dari volume surplus. Untuk tahun ini hingga pertengahan Juli diperkirakan ekspor jagung hanya 350 ribu ton, sehingga masih cukup aman untuk ketersediaan dalam negeri.

"Jadi kegiatan ekspor itu tidak mempengaruhi stabilitas pasokan dan harga. Namun dari bulan ke bulan memang pasokan tidak merata. Kami sebagai pelaku akan melihat kondisi di lapangan dan selalu memantau neraca jagung," katanya.

Menurut Widyantoko, data surplus jagung dari tahun ke tahun mengalami fluktuatif. Misalnya, tahun 2022 diperkirakan surplus 2,6 juta ton, tahun 2021 sebanyak 2,8 juta ton, tahun 2020 sekitar 6,2 juta ton dan tahun 2019 diperkirakan surplusnya 2,2 juta ton.

Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Moh. Ismail Wahab mengatakan pihaknya produksi jagung hingga November diprediksi masih memadai. Surplus jagung diyakini tercapai namun tipis di atas rerata kebutuhan bulanan. Dia tidak sepakat ekspor jagung pakan ternak dilakukan saat ini karena beresiko berpotensi menggangu stabilitas pasokan domestik.

Menurutnya, produksi jagung nasional sejak Agustus diproyeksi sedikit kebutuhan nasional. Diperkirakan produksi jagung kadar air 14 % hingga bulan November lebih rendah dari trend produksi periode Januari-Juli yang mencapai di atas 1 juta tahun.

Ismail menambahkan, Kementan menargetkan swasembada jagung tahun 2023. Menurutnya, target tersebut bahkan sudah disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) dalam rapat kerja bersama DPR RI beberapa waktu lalu. "InsyaAllah tahun depan kita bisa swasembada jagung mudah-mudahan kondisi iklimnya seperti yang sebelum-sebelumnya artinya curah hujan tetap bagus sepanjang tahun," kata Ismail.

Direktur Ketersediaan Pangan, Badan Pangan Nasional Budi Waryanto mengatakan guna mencapai swasembada jagung diperlukan tata Kelola jagung nasional, yakni Peraturan Presiden No 48 Tahun 2016 mengenai Penugasan kepada Perum BULOG dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional. Selanjutnya guna pencapaian swasembada jagung ,akan dilkaukan optimalisasi fungsi fasilitas terutama dryer dan silo BULOG.

Diantaranya percepatan corn drying center BULOG guna memperkuat cadangan jagung. Upaya lain memperkuat konektivitas antar wilayah seperti revitalisasi pelabuhan di sentra produksi jagung, optimalisasi trayek dan tol laut juga meminat Badan Pusat Statistik (BPS) segera merilis kerangka sampel area (KSA) jagung. kbc11

Bagikan artikel ini: