Harga minyak turun, PKS DPR desak anulir kenaikan harga Pertalite cs

Jum'at, 9 September 2022 | 12:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Fraksi Keadilan Sejahtera (DPR RI PKS) Mulyanto mendesak pemerintah meninjau ulang kebijakan soal kenaikan harga BBM bersubsidi.Menurutnya, harga minyak dunia turun hingga US$80 per barelnya.

Mulyanto mengatakan, angka tersebut berada jauh di bawah besaran asumsi makro harga ICP alias harga patokan minyak mentah di Indonesia. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2022, kata dia, harga ICP sebesar US$100 per barel.

"Dengan penurunan harga minyak dunia ini maka alasan Pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi jadi tidak relevan dan sulit dinalar logika masyarakat," kata Mulyanto dalam keterangannya, Jumat (9/9/2022).

Karenanya, Mulyanto meminta pemerintah segera mengkaji ulang kebijakan menaikkan harga BBM. Dia mengatakan, pemerintah tidak pantas menaikkan harga BBM bersubsidi ketika patokan harga pokok produksi (HPP) terus turun. "Logika kenaikan harga BBM bersubsidi karena melambungnya harga minyak dunia, makin tidak mendapat pembenaran," ujarnya.

Mulyanto menjelaskan, sejak Juni 2022 sampai hari ini, data harga minyak dunia di oilprice.com terus merosot mendekati angka US$80 per barel. Karenanya, dia mengatakan Amerika, Malaysia, dan beberapa negara lain dikabarkan sudah menurunkan harga BBM. "Jadi aneh kalau BBM bersubsidi kita malah naik, di tengah penurunan harga-harga BBM. Logikanya kurang masuk," kata Mulyanto.

Sebelumnya, kebijakan menaikan harga BBM resmi diumumkan oleh Presiden Jokowi pada Sabtu (3/9/2022). Keputusan ini diumumkan Jokowi di Istana Merdeka bersama jajaran menterinya. Menurutnya, keputusan ini diambil dalam kondisi keuangan negara yang sulit.

Jokowi berdalih, lebih dari 70% subsidi justru dinikmati oleh masyarakat yang mampu. Karenanya, pemerintah harus mengalihkan subsidi BBM menjadi bantuan langsung tunai (BLT) untuk masyarakat.

Untuk harga Pertalite dari sebelumnya Rp 7.650 per liter kini naik menjadi Rp10.000 per liter. Kemudian, harga solar subsidi dari Rp 5.150 per liter naik menjadi Rp 6.800 per liter.

Selanjutnya, harga Pertamax non subsidi dari Rp 12.500 per liter naik menjadi Rp 14.500 per liter. Namun,harga BBM non subsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sebelumnya diketahui rata-rata turun sebesar Rp 2.000 per liter.

Adapun harga terbaru di setiap daerah memiliki nominal yang berbeda. Pertamax Turbo (RON 98) mengalami penurunan harga dari Rp 17.900 per liter menjadi Rp 15.900 per liter. Kemudian, Dexlite turun dari Rp 17.800 per liter menjadi Rp 17.100 per liter. Lalu BBM jenis Pertamina Dex turun dari Rp 18.900 per liter menjadi Rp 17.400 per liter.

Kurangi Besaran Subsidi

Pada kesempatan berbeda, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan kebijakan pemerintah menyesuaikan harga BBM Pertalite dan Solar pada 3 September 2022 sebetulnya bukan untuk menaikkan harganya, melainkan untuk mengurangi besaran subsidinya. "Ini poinnya bukan menaikkan harga, tapi mengurangi subsidinya," kata Erick.

Sebab itu, meskipun harga minyak mentah dunia terus turun di bawah level US$90 per barel, maka dia mengatakan, harga-harga BBM bersubsidi ke depannya akan semakin sesuai dengan harga yang beredar di pasaran. Dengan demikian, subsidinya juga akan semakin menurun.

"Saya lihat turun lagi ke US$90 per barel kalau tidak salah. Kalau ini turun ke US$75, US$65, alhamdulilah berarti harga yang kita lakukan sekarang sudah harga pasar, sehingga subsidinya akan menurun," klaim Erick.

Penyesuaian harga BBM ini, kata Erick tidak bisa dielakkan lagi karena Indonesia sejak 2003 sudah menjadi negara importir BBM. Di sisi lain, Indonesia juga bukan lagi menjadi bagian dari negara-negara eksportir minyak yang tergabung dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC),

Di sisi lain, Erick melanjutkan, jumlah penduduk Indonesia juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya, sehingga konsumsi BBM pun juga akan terus meningkat di tengah semakin bertambahnya jumlah penduduk kelas menengah di dalam negeri.

"Bagaimana pertumbuhan penduduk Indonesia meningkat dari sebelumnya sampai sekarang 270 juta, bahkan di 2045 mencapi 318 juta, dan middle class kita meinigkat sampai 145 juta," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: