Waduh! Dunia terancam kekurangan CPO di 2050

Jum'at, 5 Agustus 2022 | 14:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Founder dan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan, ke depannya dunia bakal kekurangan minyak nabati termasuk minyak sawit atau crude palm oil (CPO).

Hal itu sesuai dari proyeksi Oil World yang menyebut pada 2050 dengan pertambahan jumlah penduduk, maka permintaan terhadap minyak sawit akan tinggi.

"Di Indonesia juga kalau konsumsinya naik per kapita, saat ini sekitar 20 kg per kapita per tahun naik jadi 25 misalnya. Itu 25 yang terjadi di dunia pada 2050. Di Indonesia saja kebutuhan minyak goreng total 7 juta ton per tahun baik curah atau kemasan. Kalau bertambah penduduk jadi 300 juta, berapa totalnya?," ujar Tungkot dalam Focus Group Discussion 'Mempercepat Hilirisasi Kebun Sawit Rakyat melalui Kemitraan Petani Sawit Rakyat dengan Pelaku Industri Sawit', Kamis (4/8/2022).

Oleh karena itu, Tungkot mengatakan bahwa pembuatan pabrik minyak sawit makan merah nantinya akan menutup kebutuhan minyak goreng di daerah-daerah. Menurutnya, justru dengan masuknya produk baru ini, minyak sawit makan merah, ke pedesaan yang selama ini butuh biaya besar, menjadi solusi.

"Jadi menurut saya tidak aka nada masalah soal pasar [minyak sawit makan merah]. Apalagi ini berbeda dengan produk yang lain. Minyak sawit makan merah targetnya bayangan saya lokal. Jadi misalnya pabrik minyak yang ada di Lembuhan Batu, yaitu hanya untuk daerah itu yang saya bayangkan. Tidak akan sampai ke Medan," jelas Direktur Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) itu.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memimpin Rapat Terbatas terkait Pengelolaan Produk Turunan Kelapa Sawit di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (18/7/2022).

Dalam keterangan pers setelah pertemuan, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki mengatakan mau mengembangkan Red Palm Oil (RPO) atau minyak makan merah dan pabrik Crude Palm Oil (CPO) mini.

Teten menjelaskan, ini merupakan program hilirisasi produk kelapa sawit dan menjadi solusi untuk menjamin harga jual tandan buah segar (TBS) dari petani yang tidak stabil.

"Ini solusi bagi para petani yang selama ini sangat tergantung menjual TBS-nya kepada industri, sementara industri minyak goreng itu terpusat di Jawa, sehingga petani kadang sulit menjual TBS atau harganya rendah karena mereka tidak punya teknologi untuk mengolah sawitnya menjadi CPO dan menjadi minyak makan," kata Teten. kbc10

Bagikan artikel ini: