Jokowi dorong pengusaha muda petik peluang dari krisis energi dan pangan

Jum'at, 10 Juni 2022 | 22:18 WIB ET
Presiden Jokowi saat memberikan sambutan di HUT ke-50 HIPMI di Jakarta, Jumat (10/6/2022).
Presiden Jokowi saat memberikan sambutan di HUT ke-50 HIPMI di Jakarta, Jumat (10/6/2022).

JAKARTA, kabarbisnis.com: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong para pengusaha yang bernaung dalam wadah  Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mampu memetik peluang bisnis atas kondisi kenaikan harga pangan maupun energi yang terjadi di dunia saat ini.

Presiden mengatakan, kenaikan harga pangan dan juga energi ini menjadi persoalan besar yang dihadapi pemerintah hampir di semua negara.

"Inilah yang perlu saya ingatkan, yang berkaitan dengan pangan itu hati-hati ke depan. Tetapi juga menjadi peluang bagi para pengusaha, terutama anggota HIPMI untuk masuk ke bidang-bidang ini. Pangan, energi ini adalah peluang," kata Jokowi dalam sambutannya di HUT ke- 50 HIPMI di Jakarta, Jumat (10/6/2022).

Jokowi menjelaskan, kenaikan harga energi dan juga pangan akan berimbas pada kenaikan inflasi. Ia menyebut, saat ini harga gas alam pun sudah mengalami kenaikan hingga 153 persen, sedangkan batubara naik 133 persen. Meskipun begitu, kondisi ini dinilainya menggembirakan bagi beberapa pengusaha di Indonesia.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas minyak hingga 58% dan juga CPO yang naik 27%. Jokowi juga meminta agar mewaspadai kenaikan harga gandum dan kedelai yang juga akan berimbas ke banyak hal dan dapat menyebabkan kenaikan inflasi.

"Gandum karena penghasil gandum 30-40% Ukraina dan Rusia sekarang bermasalah, gandum seluruh dunia harganya naik. Dan kita nanti di sini ada mie, di sini ada roti, semuanya berasal dari gandum," ujar dia.

Sedangkan untuk komoditas jagung, Jokowi menyebut pemerintah berhasil menurunkan jumlah impor jagung dari 3,5 juta ton di 2017 menjadi 800 ribu ton di kuartal pertama 2022. Dia melanjutkan, saat ini diperkirakan akan terdapat sekitar 13 juta orang yang mulai mengalami krisis pangan di sejumlah negara.

Sementara sebanyak 22 negara di dunia juga telah mulai membatasi ekspor pangan. Karena itu, Jokowi pun menekankan pentingnya kemandirian pangan di Tanah Air.

Jokowi berharap para pengusaha Hipmi mampu memanfaatkan peluang dari kenaikan sejumlah harga pangan dan energi ini, yakni dengan menanam berbagai alternatif bahan pangan seperti sorgum, porang, sagu, singkong.

"Saya mengajak kepada seluruh anggota Hipmi untuk masuk ke bidang ini. Tanam yang tadi kurang, jelas jagung, untung pasti untung karena harganya jagung baik. Tanam yang lain yang pangan, sorgum yang ga pernah kita tanam, tanam sorgum, terutama di NTT," jelasnya.

Presiden juga meyakini, krisis pangan ini akan menjadi masalah besar ke depannya mengingat terjadinya perubahan iklim yang dihadapi dunia saat ini.Presiden mengingatkan hal ini pun nantinya juga akan berdampak pada kenaikan inflasi.

Indonesia sendiri, inflasi mengalami sedikit kenaikan. Namun, kata Jokowi, kenaikan inflasi ini masih bisa dikendalikan. Sementara di negara-negara lainnya sudah mengalami inflasi hingga di atas 70 persen. Amerika yang biasanya hanya mengalami inflasi 1%, saat ini melonjak menjadi 8,3%.

Menurutnya, diperkirakan akan terdapat 60 negara yang mengalami kesulitan keuangan maupun ekonomi. Negara-negara tersebut juga diperkirakan akan menjadi negara gagal jika tidak bisa segera mengatasi masalah ekonominya.

"Inilah yang perlu saya ingatkan kepada kita semuanya. Jangan sampai kita merasa normal padahal keadaannya betul-betul pada situasi yang tidak normal, ketidakpastian ini. Ini yang harus kita jaga semuanya," ujarnya.

Terkait upaya mewujudkan kemandirian energi, Presiden menyebutkan, pemerintah tetap akan melanjutkan kebijakan hilirisasi yaitu setelah menghentikan ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah, pemerintah akan melanutkan penghentian bahan mentah lainnya.

"Tahun ini mungkin kita akan stop lagi (ekspor) bauksit, tahun depan timah, tahun depan tembaga dan seterusnya sehingga nilai tambah ada di dalam negeri, sehingga negara dapat PPN (Pajak Pertambahan Nilai), PPH (Pajak Penghasilan) karyawan, PPH badan, bea ekspor yang semua akan memperkuat APBN kita," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: