Pasar membaik, Intiland siapkan klaster landed house baru di Surabaya

Rabu, 1 Juni 2022 | 08:26 WIB ET
Direktur Marketing PT Intiland Development Wilayah Surabaya, Harto Laksono
Direktur Marketing PT Intiland Development Wilayah Surabaya, Harto Laksono

SURABAYA, kabarbisnis.com: Emiten pengembang properti PT Intiland Development Tbk. (DILD) optimis bisa mencapai target penjualan di tahun ini seiring dengan potensi pemulihan ekonomi nasional yang turut mendongkrak sektor properti.

Direktur Marketing PT Intiland Development Wilayah Surabaya, Harto Laksono mengatakan, kinerja properti selalu sejalan dengan makro ekonomi, sebab dalam pemulihan ekonomi lebih dulu diawali dengan pertumbuhan sektor ritel tertama pangan, kemudian disusul kebutuhan hunian.

"Kami melihat ekonomi secara makro mengalami pertumbuhan yang positif, tentunya kami optimistis properti akan terkerek dan target pertumbuhan penjualan kita masih sama seperti yang ditetapkan perseroan yakni growth 47 persen atau mencapai Rp2,4 triliun," jelasnya di sela Media Gathering Intiland Surabaya, Selasa (31/5/2022).

Guna mengantisipasi kebutuhan properti, lanjut Harto, Intiland dalam waktu dekat akan mengembangkan klaster-klaster baru di proyek Graha Natura Surabaya Barat yang akan menyasar segmen di hargar Rp2 miliar - Rp5 miliar.

"Tahun ini kita akan coba masuk ke pasar hunian landed dengan harga Rp2 miliar - Rp5 miliar karena tampaknya perekonomian sudah membaik. Kalau tahun lalu kami hanya bermain di harga Rp1 miliaran karena di segmen ini yang paling bagus kondisinya terutama didukung insentif pemerintah," jelasnya.

Namun begitu, Harto bilang, Intiland menilai pasar properti di segmen end user masih akan tumbuh lebih baik dibandingkan investor sebab kebutuhan tempat tinggal masih cukup tinggi.

"Sedangkan investor di harga tertentu tahun lalu memang agak ngerem karena bukan rumah pertama, tetapi untuk jangka panjang dan punya uang lebih mereka akan lari ke properti dan tahun ini akan mulai ada," imbuhnya.

Harto mengatakan, sejalan dengan pulihnya sektor properti dan meningkatnya harga bahan baku, perseroan juga berencana melakukan koreksi harga properti sedikitnya 5 persen.

"Mulai semester II ini akan naik, apalagi untuk produksi baru karena harga bahan bangunan sudah naik, ditambah ada kenaikan PPN menjadi 11 persen," imbuhnya.

Selain itu, tantangan sektor properti tahun ini yang cukup menghantui adalah adanya potensi kenaikan suku bunga bank meskipun permintaan pasar diproyeksi akan tumbuh.

Sekadar diketahui, berdasarkan laporan keuangan perseroan sampai dengan 31 Maret 2022, perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp562,47 miliar, tumbuh tipis dari tahun sebelumnya senilai Rp550,60 miliar.

Pendapatan ini berasal dari segmen usaha pengembangan perumahan mencatatkan kontribusi marketing sales terbesar senilai Rp254 miliar atau 51 persen dari keseluruhan. Kontributor berikutnya berasal dari penjualan di segmen kawasan industri senilai Rp190 miliar atau memberikan kontribusi 38 persen. Sementara segmen pengembangan mixed-use dan high rise memberikan kontribusi 11 persen dengan membukukan marketing sales Rp57 miliar.

Sepanjang kuartal I/2022, perseroan membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk senilai Rp72,70 miliar. Berbanding laba Rp3,24 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun, rugi yang diatribusikan ke kepentingan non pengendali sebesar Rp26,99 miliar, lebih besar dari periode yang sama tahun lalu rugi Rp2,50 miliar sehingga total rugi tahun berjalan mencapai Rp99,69 miliar, negatif dari tahun sebelumnya yang membukukan laba Rp1,75 miliar. kbc10

Bagikan artikel ini: