Tren bencana meningkat, KSP: Anak muda harus terapkan budaya kesiapsiagaan bencana

Selasa, 26 April 2022 | 21:45 WIB ET

Jakarta - Dengan memperhatikan peningkatan tren jumlah bencana dari tahun ke tahun, maka pemerintah akan terus menggalakkan upaya kesiapsiagaan bencana yang berorientasi pada pencegahan dengan melibatkan peran anak muda didalamnya.

Hal ini disampaikan oleh Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Abetnego Tarigan bertepatan dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh pada Selasa (26/4). 

“Budaya kesiapsiagaan bencana sebenarnya sudah dimiliki orang tua kita, kearifan orang tua perlu diwariskan ke generasi muda,” kata Abetnego.

“Melibatkan peran anak muda sangatlah penting karena apabila di masa depan kita tidak siap siaga bencana, kita tidak hanya akan menghadapi dampak hilangnya jiwa manusia namun juga dampak ekonomi yang tidak kecil. Kementerian Keuangan mencatat rata-rata kerugian ekonomi akibat bencana mencapai Rp 22,8 trilliun pada periode 2005-2017,” imbuhnya.

Secara geografis, Indonesia adalah negara kepulauan yang berada di pertemuan empat lempeng tektonik, yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri mencatat 1,073 bencana terjadi di tahun 2012 dan angka ini meningkat di tahun 2017 terjadi 2.372 bencana. 

Sementara itu, selama kurun tahun 2005-2017, Kementerian Keuangan mengeluarkan dana cadangan rata-rata sebesar Rp3,1T untuk pembiayaan penanggulangan bencana.

Selama kurun waktu tersebut, pembiayaan penanggulangan bencana gempa bumi mengisi peringkat pertama dengan besar kerugian mencapai Rp 7,56 Triliun. Bencana kebakaran menempati peringkat kedua dengan biaya penanggulangan mencapai Rp 6,32 Triliun. Disusul bencana banjir (Rp 4,04 Triliun), tsunami (Rp 2,71 Triliun), longsor (Rp 4,29 Triliun), letusan gunung api (Rp 1,25 Triliun), cuaca ekstrim dan gelombang ekstrim (Rp 1 Triliun) dan kekeringan (Rp 0,01 Triliun).

 

Beberapa praktik tradisional di Indonesia pun dianggap efektif untuk mengurangi risiko bencana. Misalnya para nenek moyang terdahulu yang tinggal di pesisir pantai selalu berupaya menjaga hutan mangrove untuk menghindari risiko abrasi. Ia juga mencontohkan rumah adat Oma Hada di Nias, Sumatera Utara dengan struktur tiang dan sambungan tanpa menggunakan paku sehingga tahan gempa. 

Bagikan artikel ini: