BI diprediksi kerek suku bunga di semester II, begini dampaknya ke ekonomi RI

Rabu, 20 April 2022 | 06:04 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada April 2022 ini BI masih menahan suku bunga acuan di level 3,5%.

Namun Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual memperkirakan, bank sentral akan mengerek suku bunga acuan pada paruh kedua tahun ini.

"Sehingga, pada akhir tahun 2022 ada peningkatan sebesar 50 basis poin (bps)," ujar David seperti dikutip, Selasa (19/4/2022).

David melihat, langkah BI dalam menaikkan suku bunga acuan akan sangat bergantung dengan tekanan inflasi ke depan. Dia yakin tekanan inflasi akan mulai terasa di paruh kedua tahun ini seiring dengan peningkatan permintaan dan inflasi dari harga-harga diatur pemerintah.

"Apalagi, ada wacana pemerintah akan meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, gas LPG 3 kg, bahkan listrik. Ini banyak sekali barang yang akan naik, maka bisa saja inflasi meningkat pada semester II-2022," kata David.

Selain karena tekanan inflasi, peningkatan suku bunga acuan oleh BI juga menimbang kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), menjangkar ekspektasi pasar, dan melihat daya tarik aset rupiah.

Lebih lanjut, David memandang langkah BI dalam menaikkan suku bunga acuan pada semester II-2022 tak akan mengganggu pemulihan ekonomi. Menurut David, perbaikan mobilitas masyarakat yang akan menjadi kunci dari pertumbuhan ekonomi domestik.

"Dengan membaiknya mobilitas, ekonomi akan dalam tren perbaikan. Karena, porsi ekonomi domestik lebih besar," katanya.

Dengan demikian, David memperkirakan pertumbuhan ekonomi di sepanjang tahun ini akan berada di kisaran 4,8% yoy hingga 5% yoy, atau lebih tinggi dari pertumbuhan di sepanjang tahun 2021 yang sebesar 3,69% yoy. kbc10

Bagikan artikel ini: