Pertamax naik, Pertamina: Masih jauh di bawah harga keekonomian

Jum'at, 1 April 2022 | 16:35 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mulai Jumat (1/4/2023). Penyesuaian harga dilakukan guna merespons kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada arus kas perusahaan migas pelat merah itu. Harga Pertamax naik bervariasi dari Rp 9.000 ribu per liter menjadi Rp 12.500 hingga Rp 13.000 per liter, tergantung daerahnya.

Dikutip dari laman Pertamina, harga Rp 12.500 akan berlaku di Aceh, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat.  Sedangkan harga Pertamax sebesar Rp 12.750 berlaku di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Adapun harga Pertamax Rp 13 ribu per liter akan berlaku di Riau, Kepulauan Riau, Kota Batam, serta Bengkulu. Meski demikian Pertamina mengatakan bahwa harga baru ini lebih kompetitif dibandingkan pesaing mereka. kenaikan harga Pertamax saat ini masih jauh di bawah keekonomiannya.

"Pertamina selalu mempertimbangkan daya beli masyarakat. Ini pun baru dilakukan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir," kata Pejabat sementara Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, SH C&T Pertamina Irto Ginting dalam keterangan tertulis.

Irto mengatakan, kenaikan harga Pertamax masih jauh di bawah nilai keekonomiannya. Harga keekonomian atau batas atas BBM umum RON 92 pada April 2022 diperkirakan Kementerian ESDM mencapai Rp 16.000 per liter. Dengan demikian, kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 12.500 per liter ini masih lebih rendah Rp 3.500 dari nilai keekonomiannya. "Ini kita lakukan agar tidak terlalu memberatkan masyarakat," ujar Irto.

Pertamina berharap masyarakat tetap memilih BBM nonsubsidi yang lebih berkualitas. "Harga baru masih terjangkau khususnya untuk masyarakat mampu. Kami juga mengajak masyarakat lebih hemat dengan menggunakan BBM sesuai kebutuhan," jelas Irto.

Irto mengklaim kenaikan harga dilakukan secara selektif, hanya berlaku untuk BBM non subsidi yang dikonsumsi masyarakat sebesar 17 persen, di mana 14 persen merupakan jumlah konsumsi Pertamax dan 3 persen jumlah konsumsi Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex. Sedangkan BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia sebesar 83% tidak mengalami perubahan harga atau tetap Rp 7.650 per liter. Irto mengatakan hal ini merupakan kontribusi Pemerintah bersama Pertamina dalam menyediakan bahan bakar dengan harga terjangkau.kbc11

Bagikan artikel ini: