Tetap waspada! Muncul cucu Omicron, begini gejalanya

Kamis, 10 Maret 2022 | 14:10 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kasus Covid-19 di Indonesia yang sempat melonjak akibat varian Omicron mulai terkendali pada Maret 2022 ini. Namun, masyarakat dimibta tetap waspada, karena kini ada cucu Omicron yang diperkirakan bisa menyebar lebih cepat.

Satgas Penanganan Covid-19 mengumumkan ada tambahan 30.148 kasus baru infeksi virus corona hingga Selasa (8/3/2022). Dengan demikian, total menjadi 5.800.253 kasus Covid-19 sejak pandemi terjadi pada Maret 2020 hingga 8 Maret 2022.

Sementara itu, jumlah yang sembuh dari kasus Covid-19 hingga 8 Maret 2022 bertambah 55.128 orang sehingga menjadi sebanyak 5.226.530 orang.

Sedangkan jumlah orang yang meninggal akibat virus Covid-19 hingga 8 Maret 2022 di Indonesia bertambah 401 orang menjadi sebanyak 150.831 orang.

Jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia mencapai 422.892 kasus, berkurang 25.381 kasus dibanding sehari sebelumnya. Dengan penurunan kasus Covid-19 hingga 8 Maret 2022, pemerintah melonggarkan sejumlah aturan seperti karantina dari luar negeri yang hanya 1 hari serta menghilangkan kewajiban tes PCR atau antigen untuk bepergian dengan transportasi umum.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum lama ini umumkan cucu dari varian virus corona ini, yakni subvarian BA.3 Omicron.

Seperti yang sering disampaikan oleh para ahli dan ilmuwan, bahwa setiap setiap virus akan bermutasi pada suatu waktu, dan melalui mutasi ini, maka galur virus baru muncul. Virus dapat terpecah menjadi subvarian atau sub-garis keturunan saat bermutasi menjadi varian.

Dilansir dari Healthsite, Selasa (8/3/2022), sebuah laporan menunjukkan bahwa variasi varian Delta terdiri dari sekitar 200 subvarian.

Sedangkan varian Omicron yang saat ini menjadi varian virus corona yang mendominasi di dunia, memiliki beberapa subvarian, di antaranya BA.1, BA.2, BA.3 dan B.1.1.529, dengan subvarian BA.1 yang mendominasi saat ini.

Kemunculan cucu Omicron subvarian BA.3 Para ilmuwan juga telah memperingatkan bahwa masyarakat dunia juga perlu mewaspadai subvarian Omicron BA.2. Kini, para pakar WHO pun menunjukkan bahwa kemungkinan ada garis keturunan Omicron BA.3 lainnya.

Terkait munculnya cucu Omicron ketiga, yakni subvarian BA.3 ini disampaikan Maria Van Kerkhove, Infectious Disease Epidemiologist dan WHO Covid-19 Technical Lead pada 5 Maret 2022 lalu.

Kerkhove mengungkapkan bahwa tingkat keparahan subvarian BA.2 dan BA.1 dari Omicron adalah serupa, demikian dengan subvarian BA.3 di antara semua garis keturunan varian Omicron.

Menurut data WHO, varian Omicron meliputi garis keturunan Pango B.1.1.529 dan garis keturunan Pango BA.1, BA.1.1, BA.2 dan BA.3. Munculnya sublineage BA.3 juga telah dikonfirmasi dalam sebuah studi yang telah dipublikasikan di Journal of Medical Virology pada 18 Januari 2022. Sublineage BA.3 awalnya ditemukan di barat laut Afrika Selatan.

Menurut studi ini, hanya ada 0,013 persen dari total sekuens genom yang diunggah ke database GISAID pada 11 Januari 2022 lalu, yakni adalah subvarian BA.3 Omicron. Studi ini juga menemukan BA.3 memiliki mutasi yang lebih sedikit dibandingkan subvarian BA.1 yang saat ini mendominasi penularan.

Para peneliti pun berasumsi bahwa hilangnya mutasi tersebut dapat menjadi salah satu alasan tingkat infeksi BA.3 cucu Omicron ini cenderung lebih rendah.

Lantas, apakah subvarian Omicron BA.3 ini dapat menyebabkan Covid-19 yang parah?

Studi baru telah melabeli cucu varian Omicron, subvarian BA.3 ini sebagai garis keturunan Omicron dengan jumlah mutasi yang paling sedikit.

Peneliti mengatakan bahwa suatu varian virus corona yang menginfeksi tubuh manusia ditentukan oleh bagaimana tubuh inang bereaksi terhadap virus tersebut.

Sejauh ini, di antara semua varian virus corona yang telah ditemukan, varian Omicron dianggap paling ringan. Setidaknya, ada lebih sedikit rawat inap terkait infeksi Covid Omicron yang dilaporkan selama gelombang ketiga, yang sebagian besar didorong oleh infeksi subvarian BA.1.

Namun, meski dianggap ringan, namun di sisi lain, varian Omicron dapat menyebar dengan cepat. Secara Global Merujuk pada studi di Jepang, Kerkhove mengungkapkan bahwa studi eksperimental terhadap varian Omicron diamati pada hamster secara khusus.

Hasil studi mengungkapkan bahwa ada sinyal yang menyebabkan penyakit menjadi lebih parah di bawah kondisi eksperimental ini. "Kami juga melihat keparahan dalam apa yang kami sebut di dunia nyata," kata dia.

Kendati demikian, masih sedikit bukti yang diketahui tentang tingkat keparahan yang disebabkan oleh infeksi subvarian Omicron BA.3. Namun demikian, dari tingkat keparahan tiga sub variasi Omicron ini, jelas bahwa anak-cucu Omicron memiliki efek yang sama karena mereka memiliki varian induk yang sama.

Adapun gejala Omicron BA.3, pada umumnya tidak jauh berbeda dengan subvarian-subvarian Omicron lainnya. Di antaranya gejala yang dilaporkan seperti sakit tenggorokan, pilek, bersin, sakit kepala, nyeri tubuh dan demam ringan. kbc10

Bagikan artikel ini: