Harga berpeluang naik, penyaluran LPG bersubsidi tertutup tunggu arahan Jokowi

Rabu, 19 Januari 2022 | 18:43 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menggodok perubahan skema penyaluran subsidi  liquefied petroleum gas (LPG) ukuran  3 kilogram (kg) agar tepat sasaran dengan skema distribusi tertutup. Konsekuensinya,tidak menutup kemungkinan harga LPG berpeluang naik.

Karena itu, rencana pengalihan skema subsidi ini masih menunggu arahan langsung Presiden Joko Widodo. Dirjen Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji mengatakan  pihaknya mendorong penyaluran subsidi gas melon itu untuk bisa lebih tepat sasaran. Tutuka menyebut, Kementerian ESDM terus memberikan masukan-masukan terhadap skema penyaluran secara tertutup.

"Pada prinsipnya kami mendorong untuk LPG 3 kg ini menjadi tepat sasaran, saya kira pemikiran konsep sudah ada di sana, kami ingin lebih cepat," kata Tutuka dalam konferensi pers virtual, Rabu (19/1/2022).

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Soerjaningsih mengatakan berdasarkan rekomendasi Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat, distribusi LPG 3 kg dilakukan secara tertutup dan akurat dengan memanfaatkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Dia menuturkan, penyaluran subsidi secara tertutup tersebut akan dilakukan pada beberapa kota, dan dilaksanakan dengan sangat hati-hati agar daya beli masyarakat tetap terjadi.

Namun, untuk penerapan penyaluran subsidi tertutup secara keseluruhan nantinya akan menunggu restu langsung dari Presiden Jokowi. "Kami menunggu keputusan Presiden, apakah akan diterapkan subsidi tepat sasaran ini karena konsekuensi penyaluran tepat sasaran adalah kenaikan harga LPG 3 kg," imbuhnya.

Terkait rencana mensubsidi Pertalite menggantikan Premium, Tutuka mengatakan pihaknya masih mengkalkulasi besaran harga eceran bahan bakar minyak (BBM) Pertalite.  Pertalite dan Premium merupakan nama produk BBM yang dipasarkan Pertamina. Pertalite memiliki oktan (RON) 90 sedangkan Premium beroktan 88. Saat ini bensin Premium dibanderol Rp 6.450 per liter, sedangan Pertalite dijual Rp 7.650 per liter.

Tutuka mengatakan, penentuan harga eceran BBM Penugasan mempertimbangkan harga Premium. Hal ini merujuk pada Peraturan Presiden No. 117 Tahun 2021. Beleid yang diteken Jokowi pada 31 Desember 2021 itu merupakan perubahan ketiga dari Perpres 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak. "Dalam Perpres itu Premium yang ada di dalam Pertalite, jadi itu yang akan kita sekarang kaji dengan Pertamina besarannya," kata Tutuka.

Menurutnya, Premium secara alami akan menghilang lantaran tak lagi diminati masyarakat. "Premium kan tinggal sedikit 0,3% akan secara natural habis dan Pertalite muncul," ujarnya.

Penghapusan Premium sudah bergulir sejak 2021. Langkah ini sebagai bentuk komitmen pemerintah menekan emisi karbon. Namun dalam Peraturan Presiden 117/2021 masih mencantumkan BBM beroktan 88.kbc11

Bagikan artikel ini: