Bikin buku Jejak Listrik Di Tanah Raja, ini pesan Komisaris PLN

Minggu, 16 Januari 2022 | 10:39 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Berbicara soal arti kelistrikan, masyarakat selalu terpaku pada pemahaman listrik sebagai perangkat infrastruktur keras. Tidak banyak orang yang memahami bahwa listrik telah menjadi tulang punggung perubahan masyarakat dalam banyak hal, baik dari sisi sosial, budaya, pendidikan dan ekonomi. 

Untuk itu, penulis buku "Jejak Listrik Di Tanah Raja", Eko Sulistyo yang juga menjabat sebagai Komisaris PLN dalam bukunya mencoba menghadirkan pemahaman baru yang lebih komprehensif tentang besarnya makna kehadiran listrik di bumi Pertiwi ini.

Mengambil latar pertama kalinya listrik masuk ke kota raja, yaitu Surakarta, Eko bercerita tentang bagaimana kemudian listrik telah berhasil mengubah wajah kota tradisional itu menjadi kota yang bersifat terbuka dan lebih maju. Ia menegaskan, masuknya perusahaan Electricitats Gesellschaft dengan menggandeng pihak Kasunanan, Pura Mangkunegaran, dan Kapten Cina bernama Be Kwat Koen dan bersepakat mendirikan perusahaan listrik Solosche Electriciteits Maatshappij (SEM) telah menjadi satu lompatan besar bagi kota Surakarta untuk menjadi kota kosmopolitan. 

Dalam kontek sejarah, baik di kawasan Eropa, Amerika, bahkan di negara komunis dan kapitalis, memperlihatkan  bahwa kota yang dialiri listrik akan menjadi kota yang secara ekonomi akan lebih maju dibanding kota yang tidak dialiri listrik. 

"Ini adalah kajian historis yang menceritakan kehadiran listrik di tanah kolonial khususnya di Surakarta. Saya ingin bahwa masalah listrik jangan dipahami dari infrastruktur keras, misalnya jaringan sutet, gardu induk, trafo dan sebagainya. Tetapi listrik ini juga menghadirkan jaringan lunak atau infrastruktur lunak  yang saya sebut dengan perubahan sosial, perubahan budaya, juga pendidikan dan dampaknya terhadap ekonomi. Artinya narasi tentang listrik yang dipahami sebagai infrastruktur keras itu supaya memiliki arti lain bahwa ada dampak yang dihadirkan oleh listrik berupa infrastruktur lunak. Bahwa listrik bisa menimbulkan dan munculnya budaya baru di kota.," terang Eko saat diskusi dan bedah buku "Jejak Listrik di Tanah Raja", Surabaya, Sabtu (15/1/2022).

Melalui pemahaman yang lebih komprehensif tentang kelistrikan, ia berharap seluruh pihak akan lebih memahami dan mendukung upaya PLN untuk mewujudkan target 100 persen elektrifikasi di tahun ini. Saat ini rasio elektrifikasi telah mencapai 99,28 persen. "PLN telah diberikan mandat  untuk melistriki nusantara, dengan capaian rasio elektrifikasi 100 persen tahun 2022. Ini supaya jangan sampai ada lubang di daerah tertentu yang tidak ada listriknya. Ini yang kita kejar," tambahnya.

Untuk mencapainya, PLN akan mengalokasikan sebagian dari dana PNM untuk melistriki beberapa daerah yang masih belum terlistriki, khususnya di daerah terpencil, terluar dan terdalam. Beberapa daerah yang nantinya menjadi prioritas pembangunan jaringan listrik PLN di tahun ini melalui dana PNM  diantaranya adalah Papua, sebagai Maluku dan sebagian Kalimantan. 

 "Tentu nol sekian persen pasti ada di daerah terpencil dan terluar yang secara geografis sulit dijangkau. Tetapi dari pemerintah untuk tahun ini PLN dapatkan PNM Rp 5 triliun, yang salah satunya akan digunakan untuk itu," tambahnya. 

Semetara itu, Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Gong Matua Hasibuan mengatakan sangat tertarik dan senang dengan dibuatnya buku "Jajak Listrik di Tanah Raja", karena buku ini adalah buku pertama yang bercerita tentang sisi lain dari kelistrikan di Indonesia. 

"Selama ini kami hanya berfikir bagaimana bekerja 24 jam untuk mengalirkan listrik. Barangkali ketegangan kami dalam menyediakan listrik itu telah membuat kami lupa ternyata ada bahasa lebih lugas yang mungkin ketika dijelaskan kepada pelanggan akan lebih memudahkan kami untuk menyediakan listrik sehingga kita akan mendapatkan dukungan lebih dari masyarakat dan seluruh stake header kita," katanya.

Untuk itu, ia bertekad untuk membangun komunikasi yang berbeda agar masyarakat mengerti dan memberikan dukungan penuh terhadap seluruh rencana yang akan dilakukan PLN. 

Disisi lain, Ahli sejarah Profesor  Purnawan Basundoro yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya mengungkapkan bahwa kajian sejarah kelistrikan sangat jarang dilakukan padahal relefansi kelistrikan dengan kondisi sekarang sangat erat. Ini terlihat dari ketika pasokan listrik mati akan membuat masyarakat kelabakan dan kebingungan. Kehidupan seolah berhenti.

"Kota tradisional Surakarta berubah total dengan kehadiran listrik. Berbagai perubahan terjadi disana, misal perubahan landscape kota Surakarta. Sebelum listrik datang, penerangan kota Surakarta dari obor, dari daun, kelapa dan gas. Dengan adanya listrik, kota Surakarta yang remang-remang menjadi terang benderang, sehingga berdampak sangat banyak. Dibalik kota terang ada dampak yang multi. Inilah mengapa listrik menjadi begitu menarik perhatian dan penting," pungkasnya.kbc6

 

Bagikan artikel ini: