Harga minyak goreng bertahan mahal, pemerintah putuskan naikkan HET

Senin, 10 Januari 2022 | 12:15 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Di tengah lonjakan harga minyak goreng dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah memutuskan untuk rencana merevisi ketentuan terkait Harga Eceran Tertinggi (HET).

Harga minyak goreng mahal memang tengah terjadi belakangan ini. Lonjakan harga minyak goreng di Indonesia ini jadi ironi, mengingat pasokan minyak sawit di Indonesia selalu melimpah.

Bahkan, Indonesia tercatat jadi negara penghasil CPO terbesar di dunia. Harga minyak goreng Indonesia tercatat lebih mahal daripada harga minyak goreng yang dijual di Malaysia.

Sebagai pembanding, Negeri Jiran juga produsen sawit dunia terbesar dunia dan memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi.

Sementara di Indonesia, para produsen kompak menaikkan harga dengan dalih menyesuaikan dengan harga minyak sawit (CPO) di pasar global.

Hampir tiga bulan, lonjakan harga minyak goreng di dalam negeri melesat tanpa kendali. Sejak dua bulan terakhir, minyak goreng juga berkontribusi besar terhadap inflasi.

Mengutip laman Pusat Informasi Pangan Strategis Nasional (PIHPS) pada Minggu (9/1/2022), harga minyak goreng per kilogramnya dijual di kisaran Rp 19.000 sampai dengan Rp 24.000.

Bahkan di sejumlah pasar, harga minyak goreng bahkan menembus Rp 26.350 per kilogramnya. Padahal sebelum melonjak, harga minyak nabati ini berkisar Rp 11.000 hingga Rp 13.000 tergantung kemasannya.

Kini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berencana merevisi HET minyak goreng. Saat ini, HET minyak goreng diatur melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen.

Dari regulasi tersebut, HET minyak goreng kemasan sederhana yang dalam aturan tersebut disebut sebagai Harga Acuan Penjualan di tingkat konsumen dipatok sebesar Rp 11.000.

HET minyak goreng kemasan sederhana di tingkat konsumen bakal dinaikkan dari Rp 11.000 per liter menjadi Rp 14.000 per liter.

Perubahan ini menyesuaikan harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO dunia yang diperkirakan masih tetap tinggi pada tahun ini.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, HET itu akan berlaku permanen untuk menggantikan HET sebelumnya.

Menurutnya, penentuan HET lama mengacu pada harga CPO global yang waktu itu di kisaran US$600 per ton.

"HET lama perlu diubah karena sudah tidak relevan dengan kondisi sekarang,” kata Oke beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, pada akhir Oktober 2021, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) meminta HET minyak goreng kemasan sederhana dinaikkan lantaran lonjakan harga CPO global serta peningkatan biaya produksi. GIMNI meminta HET minyak goreng itu dapat naik menjadi Rp 15.600 per liter.

Saat ini, harga CPO global masih di atas US$1.300 per ton. Hingga akhir tahun nanti, harganya diperkirakan terkoreksi, tapi masih relatif tinggi.

Dalam Konferensi Minyak Sawit Indonesia ke-17 dan Tinjauan Harga 2022, Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan harga CPO dunia berkisar US$1.000 per ton hingga US$1.250 per ton. kbc10

Bagikan artikel ini: